Bab 1 pendahuluan konteks Penelitian



Yüklə 53,54 Kb.
tarix31.10.2018
ölçüsü53,54 Kb.

BAB 1

PENDAHULUAN

    1. Konteks Penelitian

Majalah merupakan media massa yang masuk ke dalam jenis media cetak, dan tingkat kedalaman beritanya sangat tinggi. Sebab berita yang dimuat atau yang diangkat benar-benar dikupas secara mendalam, dan juga mekankan kepada unsur artistik. Majalah adalah media cetak yang dalam waktunya selalu berkala dan teratur, mingguan, dwi mingguan, bulanan bahkan satu tahun sekali. Majalah sebagai media komunikasi massa selalu berusaha menyampaikan pesan kepada khalayak dengan sangat terperinci karena memiliki karakteristik yang berbeda dari media cetak yang lainnya. Karakteristik dari majalah dapat dilihat dari isi pesan yang disajikan sebuah majalah.

Dalam penyajian pesannya, majalah menyajikan pesan secara lebih mendalam, memiliki nilai aktualitas lebih lama, gambar atau foto yang lebih banyak, dan memiliki cover atau sampul sebagai daya tarik. Sebuah cover majalah sangat penting didesain semenarik mungkin agar menimbulkan ketertarikan khalayak untuk membacanya. Dalam konteks jurnalistik, sebuah cover majalah harus menjadi bagian representatif dari isinya dan menimbulkan sebuah makna tertentu.

Kehadiran desain gambar atau foto dalam media massa menjadi sebuah warna. Majalah akan terasa tidak lengkap tanpa keberadaan gambar atau foto di dalamnya. Gambar menyajikan informasi dengan cara unik. Berbeda dengan produk jurnalistik lainnya yang menyajikan informasi melalui kata-kata, kalimat dan paragraph.

Peneliti melihat bahwa gambar ilustrasi ternyata memiliki kekuatan yang cukup hebat dalam mempengaruhi opini bahkan tindakan publik. Padahal gambar merupakan coretan-coretan pada kertas atau semacamnya. Simbol-simbol yang digunakan pada gambar cover majalah sebaiknya mudah dicerna oleh khalayak luas, agar sebuah gambar pada cover tersebut dapat mudah dimaknai secara tepat maka simbol, tanda dan hal semacamnya yang tampil dalam cover majalah hendaknya yang mudah dipaham oleh khalayak. Artinya simbol yang dipilih harus memiliki makna yang sama atau etidaknya mendekati di mata komunikator maupun komunikan. Perbedaan persepsi mengenai tanda atau simbol antara si pembuat dan pembaca merupakan hambatan komunikasi

Visualisasi adalah cara untuk membuat sesuatu yang abstrak mejadi jelas dan mampu menarik emosi pembaca, dan dapat menolong seseorang untuk menganalisa, merencanakan dan memutuskan suatu problema dengan mengimajinasikan pada kejadian yang sebenarnya.

Pada sebuah sampul, ilustrsi digunakan sebagai gambaran pesan yang tidak terbaca, namun bisa mewakili cerita dalam bentuk grafis yang menarik. Meskipun ilustrasi merupakan attention-getter (penarik perhatian) yang paling efektif, tetapi akan lebih efektif lagi bila ilustrasi tersebut juga mampu menunjang pesan yang terkandung dari sebuah cerita. Dengan ilustrasi, maka pesan menjadi lebih berkesan, karena pembaca akan lebih mudah mengingat gambar dari pada kata-kata (teks). Dalam sampul pemilihan judul harus singkat, mudah dibaca, mudah dimengerti dan secara langsung dapat meginformasikan isi yang terkandung dalam buku atau majalah.

Pada penelitian ini peneliti memilih majalah tempo edisi 28 Desember 2015-3 Januari 2016 sebagai objek yang akan diteliti, karena majalah tersebut merupakan media massa (cetak) yang sering menampilkan beberapa karikaktur atau gambar sebagai sampul yang bersifat kritis dalam memberikan informasi untuk khayalak di segala bidang baik sosial, politik, maupnn ekonomi.

Penelitian ini, mengacu pada analisis makna yang ditimbulkan oleh sebuah cover majalah di mata pembacanya, dalam hal ini pembaca Majalah Tempo dalam edisi “Para Penakhluk Asap” tahun 2015. Seperti yang kita ketahui bahwa pada 2015 silam, Indonesia dibuat porak poranda oleh sejumlah peristiwa kebakaran hutan di wilayah Sumatra. Akibatnya, sebagian besar saudara kita yang berada di sana, seakan terisolasi oleh asap karena tidak dapat ke manapun. Jalur transportasi beku selama kurang lebih tiga bulan.

Sebuah desain, mengandung makna tertentu untuk menyampaikan sebuah pesan kepada khalayak yang menerimanya. Artinya, mereka tidak dibuat semata-mata hanya mempercantik saja, tetapi sebuah karya menarik dari desain jurnalistik dalam menyampaikan sebuah pesan. Dalam hal ini, tempo ingin menyampaikan sesuatu kepada masyarakat melalui cover majalah edisi 28 Desember 2015- 3 Januari 2016 Betapa dahsyatnya sebuah makna dalam gambar dapat mewakili keseluruhan isi berita.

Salah satu komunikasi non verbal lewat visualisasi gambar pada cover majalah ini tentu menimbulkan beberapa persepsi dari para pembacanya. Dengan demikian, inilah alasan mengapa peneliti tertarik melakukan analisis terhadapa cover majalah Tempo edisi “Para Penakhluk Asap”. Pesan yang ditonjolkan dalam cover majalah ini, begitu lekat dengan kisruhnya media tentang tragedi asap tahun lalu.



    1. Fokus Penelitian

Berdasarkan konteks penelitian diatas maka peneliti memfokuskan penelitian “BAGAIMANA ANALISIS SEMIOTIKA PADA COVER MAJALAH TEMPO EDISI “PARA PENAKHLUK ASAP”.

    1. Pertanyaan Penelitian

  1. Bagaimana Represenment (Qualisign, Sinsign, Lesign) pada Cover Majalah Tempo Edisi “Para Penakhluk Asap”?

  2. Bagaimana Object (Icon, Index, Symbol) pada Cover Majalah Tempo Edisi “Para Penakhluk Asap”?

  3. Bagaimana Interpretant (Rheme, Dicent Sign, Argumen) pada Cover Majalah Tempo Edisi “Para Penakhluk Asap”?



    1. Maksud dan Tujuan Penelitian

      1. Maksud Penelitian

Penelitian ini dimaksudkan untuk memperoleh data dan informasi yang diperlukan dalam penyusunan laporan skripsi, sebagai syarat dalam menyelesaikan program strata satu (S1) konsentrasi Jurnalistik, Jurusan Ilmu Komunikasi, Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Pasundan Bandung. Selain itu penelitian ini dimaksud agar peneliti mampu memahami makna pada cover majalah dan menelaah lebih jauh mengenai pengungkapan makna pada gambar dalam cover majalah Tempo edisi 28 Desember 2015 – 3 Januari 2016

      1. Tujuan Penelitian

  1. Untuk mengetahui Represenment (Qualisign, Sinsign, Lesign) pada Cover Majalah Tempo Edisi “Para Penakhluk Asap”

  2. Untuk mengetahui Object (Icon, Index, Symbol) pada Cover Majalah Tempo Edisi “Para Penakhluk Asap”

  3. Untuk mengetahui Interpretant (Rheme, Dicent Sign, Argumen) pada Cover Majalah Tempo Edisi “Para Penakhluk Asap”



    1. Kegunaan Penelitian

Kegunaan penelitian ini diharapkan dapat memberikan manfaat bagi pengembangan suatu ilmu. Secara umum peneliti mengharapkan dapat memberi manfaat khususnya dalam pengembangan ilmu komunikasi. Kegunaan penelitian ini dibagi menjadi dua, yaitu kegunaan teoritis dan praktis.

      1. Kegunaan Teoritis

Penelitian ini diharapkan dapat memberikan manfaat terhadap pengaplikasian teori semiotika. Selain itu, dapat memberikan pengembangan ilmu komunikasi melalui majalah serta dapat memberikan manfaat penggunaan semiotika khususnya C.S Peierce dalam proses pemaknaan cover majalah. Menjadi bahan informasi dan referensi bagi pihak yang membutuhkan, khususnya akademisi dan praktisi media massa mengenai semiotika pada sebuah cover majalah.

      1. Kegunaan Praktis

Penelitian ini diharapkan dapat memberikan sumbangan pemikiran kepada khalayak dalam memaknai visualisasi gambar (dalam hal ini cover majalah). Secara tersirat, setiap cover dalam berbagai majalah tidak di desain tanpa memiliki makna tertentu yang tertuang dalam isi majalah tertentu. Sehingga tidak dipung kiri bahwa sebuah cover majalah memiliki makna tertentu dalam viualisasinya terhadap suatu kejadian.

    1. Kerangka Pemikiran

Kerangka pemikiran merupakan landasan berpikir yang memberikan gambaran singkat mengenai tahapan penelitian dariawal hingga akhir kemudian akan dijadikan asumsi dan memungkinkan terjadinya penalaran terhadap masalah yang diajukan. Pada penelitian ini, karena penelitian ini yang diangkat adalah sebuah cover majalah, maka peneliti menggunakan Teori Konstruksi Realitas Sosial yang dikemukakan oleh Peter L. Bergerman dan Thomas Luckman. Selain itu peneliti menggunakan teori semiotika hasil pemikiran dari Charles Sanders Pierce.

Istilah kontruksi atas realitas sosial menjadi terkenal oleh Peter L. Berger dan Thomas Luckman melalui bukunya The Social Contruction Of Reality dan The Treatise In The Sociological of Knowledge, mengatakan bahwa :

Kontruksi sosial adalah proses sosial melalui tindakan dan interaksinya, dimana individu secara intens menciptakan suatu realitas yang dimiliki dan dialami bersama secara subjektif.”(1996)

Realitas berbeda dengan realita dimana realitas tersebut ada secara ilmiah dan bukan juga sesuatu yang datangnya dari tuhan. Tetapi realita dibentuk dan dikontruksi oleh orang-orang atau masyarakat, setiap individu memiliki kontruksinya masing-masing baik oleh pengalaman, latar belakang pendidikan dan lingkungan.



Berger & Luckmann menjelaskan dalam buku The Social Construction of Reality bahwa :

Bahasa merupakan unsur utama di dalam proses realitas. Proses kontruksi realitas dimulai ketika seorang konstruktor melakukan objektivasi terhadap suatu kenyataan, yakni melakukan persepsi terhadap suatu objek. Selanjutnya, hasil dari pemaknaan melalui persepsi. Langkah terakhir adalah melakukan eksternalisasi atas hasil proses perenungan secara internal tadi melalui pernyataan-pernyataan. Alat untuk membuat pernyataan tersebut tiada lain adalah kata-kata suatu konsep atau bahasa. (1967:34-46)

Bahasa merupakan unsur utama dan merupakan instrument yang tidak dapat dipisahkan dalam konstruksi realitas. Ia merupakan instrumen pokok untuk menceritakan realita. Bahasa adalah alat konseptualisasi dan alat narasi. Maka dari itu bahasa sangat penting, maka tidak adakan ada berita, cerita ataupun ilmu pengetahuan tanpa bahasa.

Pierce dalam bukunya yang bejudul Semiotika Komunikasi yang ditulis oleh Pateda, dalam bukunya Semantik Leksikal mengatakan :

Tanda “Is something which stands to somebody for something in some respect or capacity”. Sesuatu yang digunakan agar tanda dapat berfungsi, oleh Pierce disebut ground. Konsekuensinya, tanda (sign atau representamen) selalu terdapat dalaam hubungan triadic, yakni ground, object, interpretant.(2001:44)

Teori segitiga makna ( Triangle Meaning ) Pierce yang terdiri atas Sign (tanda), Object (objek), dan Interpretant (Interpretan). Pierce menjelaskan salah satu bentuk tanda adalah kata. Sedangkan objek adalah suatu yang dirujuk tanda. Sementara interpretant adalah tanda yang ada dalam benak seseorang tentang objek yang dirujuk sebuah tanda. Apabila ketiga elemen itu berinteraksi dalam benak seseorang, maka munculah makna tentang sesuatu yang diwakili oleh tanda tersebut, yang dikupas teori segitiga makna adalah tanda itu digunakan orang pada waktu berkomunikasi. Elemet pemaknaan dari Pierce dapat digambarkan dengan model sebagai berikut :



GAMBAR 1.1 Elemen makna dari Pierce

Sign

Interpretant Object

Sumber : Analisis Peneliti, 2016

Teori segi tiga semiotic oleh C.S Pierce object, sign (tanda), Interpretant. Mereka memiliki hubungan yang sangat erat kaitannya untuk mendapatkan jawaban dalam permasalahan pencarian makna dan tanda-tanda. Jika dikaitkan dengan gambar pada cover majalah tempo, objeknya adalah gambar 9 orang relawan yang peduli atas kebakaran hutan di pulau Sumatra yang gambarkan tidak jelas untuk mendapatkan feel kebakaran yang terjadi pada tahun 2015 silam.



Charles Sanders Pierce, menandakan bahwa kita hanya dapat berfikir dengan medium tanda. Tanda dalam kehidupan manusia bisa tanda gerak atau isyarat seperti lambaian tangan bisa diartikan memanggil atau anggukan kepala dapat diartikan setuju, tanda bunyi seperti tiupan peluit, terompet, gendering, suara manusia, dering telepon. Tanda tulisan diantaranya huruf dan angka. Bisa juga tanda gambar berbentuk rambu lalu lintas, dan masih banyak ragamnya.

Objek pada gambar cover majalah tempo, objekya adalah 9 orang relawan yang memadamkan api ketika kebakaran terjadi di pulau Sumatra pada akhir tahun 2015 yang lalu. Dan sign (tanda)nya adalah tulisan Para Penakhluk Asap dan background yang digunakan bewarna hitam yang menandakan kesuraman pada saat itu sehingga interpretant pada cover majalah ini akan menimbulkan pemikiran tentang simbol atau gambar yang ada pada cover majalah tempo edisi Para Penakhluk Asap.

Bagi Pierce tanda merupakan sesuatu yang digunakan agar tanda bisa berfungsi yang disebut Ground. Konsekuensinya, tanda selalu terdaoat sebuah hubungan triadic yaitu Ground, Object, Interpretant. Bedasarkan Ground, konseksuensinya Pierce, membagi tanda atas Qualisign, Sinsign, dan Legisign.

Qualisign adalah kualitas yang ada pada tanda, misalnya kata-kata kasar, keras, lembut, lemah, merdu. Contohnya suara seseorang terdengar lemah sekali saat berbicara, mungkin memang dia dalam keadaan tidak enak badan atau dia sedang malas berbicara.



Sinsign adalah eksistensi aktual benda atau peristiwa pada tanda, atau tanda berdasarkan pengalaman langsung, yang secara langung menarik perhatian karena kehadirannya disebabkan oleh sesuatu. Misalnya seorang mahasiswa masuk keruang kelas untuk pertama kalinya, dengan tampilan yang sangat mencolok mata, pakaiannya yang lumayan nyentrik. Saat memperkenalkan diri suaranya sangat lantang dan keras. Baik gaya bicara, suara, cara jalan yang kita lihat. Kita dapat mengenal orang melalui mata dan telinga dan itu merupakan sinsign.

Legisign adalah yang menginformasikan norma, hukum, atau suatu aturan yang berlaku dan sifatnya umum. Misalnya rambu-rambu lalu lintas yang menandakan hal-hal yang boleh atau tidak boleh dilakukan oleh manusia. Tanda lalu lintas merupakan legisign, hal ini adalah mengucapkan salam saat berpamitan atau berjabat tangan.

Merujuk teori Pierce, makna tanda-tanda pada gambar bisa dilihat dari jenis tanda yang digolongkan dalam semiotika. Diataranya ikon, indeks, dan simbol, Ikon adalah tanda yang hubungan antara penanda dan petandanya memiliki sifat kesamaan dengan bentuk ilmiah, tanda yang mirip dengan objek yang diwakilinya. Gambar pada cover majalah tempo adalah ikon karena tanda yang mengacu pada persamaan objek.



Index adalah tanda yang menunjukan adanya hubungan alamiah antara tanda dan petanda yang bersifat kausal atau hubungan sebab akibat, tanda yang memiliki hubungan sebab akibat dengan apa yang diwakilinya. Atau disebut juga tanda sebagai bukti. Contohnya asap dan api, asap menunjukan adanya api. Jejak telapak kaki di tanah merupakan tanda indeks orang yang melewat tempat itu. Tanda tangan (signature) adalah indeks dari keberadaan seseorang yang menoreh tanda tangan itu.

Symbol adalah tanda yang menunjukan ubungan alamiah antara petanda dan penanda. Hubungan diantaranya bersifat arbiter atau semena, dan terjadi berdasarkan konvensi (perjanjian) masyarakat, tanda bedasarkan konvensi, peraturan, atau perjanjian yang disepakati bersama. Simbol baru dapat dipahamijika seseorang sudah mengerti arti telah disepakati bersama. Simbol baru dapat dipahami jika seseorang sudah mengerti arti yang telah disepakati sebelumnya. Contohnya garuda pancasila bagi bangsa Indonesia adalah burung yang memiliki pelambang yang kaya makna. Namun bagi orang yang memiliki latar belakang budaya berbeda, seperti orang eropa, misalnya garuda pancasila hanya dipandang sebagai burung biasa.

Berdasarkan interpretant, tanda (Sign, representamen) dibagi atas rheme, dicisign, dan argument. Rheme adalah tanda yang memungkinkan orang menafsirkan berdasarkan pilihan. Misalnya ada seorang teman bertemu dijalan dan menghampiri kita, terdengar suara nafasnya sangat cepat, kemungkinan karena dia habis lari, bisa jadi pula dikejar-kejar anjing, atau karena dia telah mendapatkan kabar yang membuat dia senang.



Decisign atau bisa disebut juga dicent sign adalah tanda yang sesuai dengan kenyataan. Misalnya ada jalan yang berbelok-belok dan jalan tersebut sering sekali terjadi kecelakaan, maka ditepi jalan dipasang rambu-rambu lalu lintas tanda berbelok-belok dan tanda hati-hati pada orang yang melintas jalan tersebut. Artinya ada kebenaran antara tanda yang ditunjuk dengan kenyataan yang dirujuk oleh tanda itu, terlepas dari cara eksistensinya.

Argument adalah tanda yang langsung memberi alasan tentang sesuatu. Bila hubungan interpretative tanda itu tidak dianggap sebagai bagian dan suatu kelas. Contohnya adalah seseorang berkata “ramai”, orang itu berkata ramai sebab ia berada ditempat keramaian,seperti pasar,mall atau tempat umum lainnya.

Cover dalam arti luas adalah kulit atau sampul pada majalah atau buku. Biasanya cover dibuat semenarik mungkin untuk menarik daya tarik pembaca atas buku atau majalah tersebut, kegunaan gambar pada cover memuat atau mewakili isi buku dalam sebuah majalah. Biasanya gambar pada cover merupakan berita utama yang menjadi sorotan majalah disetiap edisinya. Unsur utama majalah yang menjadi daya tarik dan memiliki kesan tersendiri adalah melalui gambar atau foto yang ada pada cover/sampul majalahnya.

Cover adalah lembaran kertas paling luar bagian depan dan belakang pada media cetak. Cover biasanya lebih tebal dari kertas isi, dibuat dengan berwarna-warni dan dirancang sedemikian rupa dengan maksud untuk menarik perhatian pembaca. Cover dalam sebuah atau majalah merupakan bagian yang tak terpisahkan. Peranan cover sangat penting, karena pada saat membeli buku atau majalah yang pertama dilihatnya adalah bagaian cover atau ilustrasi gambarnya. Jika tampilan pada cover dibuat semenarik mungkin, pasti akan membuat seseorang tertarik untuk membeli majalah atau buku tersebut.

Cover juga didesain semenarik mungin secara artistic dan indah agar mampu menarik perhatian banyak orang untuk membacanya. Pemilihan judul (teks) harus singkat, mudah dibaca da dimengerti secara langsung dapat menginformasikan isi yang terkandung didalamnya. Cover dibuat untuk membantu calonkonsumen dalam hal pemahaman pesan yang ingin disampaikan oleh penulis tentang apa yang ada dalam buku tersebut. Melalui gambar cover seorang penulis dapat menuangkan ide dan kreativitasnya sebagai sebagai salah satu kesatuan dari karya sastra yang dihasilkan, selain itu ada misi tertentu yang ingin disampaikan oleh seorang penulis kepada khalayak umum. Gambar secaravisual pada cover mampu mengomunikasikan pesan dengan cepat dan berkesan, sebuah gambar bila tepat memilihnya bisa memiliki nilai yang sama dengan ribuan kata. Visualisasi adalah cara atau sarana yang tepat untuk membuat sesuatu yang abstrak menjadi jelas.

Gambar 1.2

Bagan Kerangka Pemikiran

Analisis Semiotika Pada Cover Majalah Tempo

Edisi “Para Penakhuk Asap”

Rumusan Masalah

Bagaimana Analisis Semiotika Pada Cover Majalah Tempo Edisi “Para Penakhuk Asap”



Teori Konstruksi Sosial

( Peter L. Berger dan Thomas Luckmann)



Analisis Semiotika

Charles Sanders Pierce

(Sobur, 2003:5)



Triadic



Representment

Object

Interpretant



  1. Qualisign

  2. Sinsign

  3. Lesisign

  1. Icon

  2. Index

  3. Symbol

  1. Rheme

  2. Dicent Sign

  3. Argument

Sumber : Hasil Analisa Peneliti dan Pembimbing (2016)

1


Dostları ilə paylaş:


Verilənlər bazası müəlliflik hüququ ilə müdafiə olunur ©genderi.org 2019
rəhbərliyinə müraciət

    Ana səhifə