Bab landasan teori tinjauan umum Men Space di Jakarta Defininisi Men



Yüklə 257,54 Kb.
səhifə1/4
tarix20.09.2017
ölçüsü257,54 Kb.
  1   2   3   4


BAB 2
LANDASAN TEORI

2.1 Tinjauan umum Men Space di Jakarta

2.1.1. Defininisi Men

Men atau pria adalah sebutan yang digunakan untuk spesies manusia berjenis kelamin jantan. Pria adalah kata kata umum digunakan untuk mencerminkan laki laki yang sudah dalam proses kedewasaan. Pria relatif kuat dibanding wanita. (sumber: http://id.wikipedia.org/wiki/Pria diakses pada tanggal 2 April 2015).

Menurut konsep gender mewujudkan pemahaman bahwa lelaki mencerminkan kekuatan, dominan, percaya diri dan independen. Pada akhirnya ada beberapa perilaku yang dilazimkan dimiliki oleh para pria, seperti agresivitas adalah milik kaum pria. Dalam beberapa budaya, laki-laki disosialisasikan berperilaku agresif dari pada perempuan. Selain itu tingkat aktivitas tinggi milik para pria, pria mempunyai tingkat aktivitas yang tinggi daripada perempuan (Tim Pusat Studi Konsep Gender Universitas Udayana, 2012).

Pria dapat dikategorikan dalam beberapa penjabaran, yang antara lain adalah sebagai berikut:

1. Pria uberseksual

Pria uberseksual adalah salah satu konsep pria maskulin, istilah uberseksual berasal dari dua kata yaitu uber yang artinya diatas atau superior dan seks yang artinya “gender”. (Mathathia,Ira, Marian Salzman, Ann O’Reilly.(2006). The Future Of Men. New York: Pallgrave Macmillan Trade.)

Pria uberseksual mempunyai rasa percaya pria sejati dan memancarkan kharisma. Tipe pria ini memiliki beberapa ciri salah satu cirinya pria uberseksual tak suka begitu mengikuti tren mode tetapi mereka tetap menjaga penampilannya. Mereka tak mengetahui daftar daftar salon dengan perawatan kulit terbaik, tetapi tetap menjaga kebesihan wajah dan dirinya. Ciri menonjol dari pria uberseksual lainnya adalah kepercayaan diri dan kepedulian yang tinggi pada sesama. Ciri- ciri pria uberseksual dapat dijabarkan sebagai berikut:



  1. Memiliki gairah terhadap bisnis, politik dan urusan global serta tak terlalu fokus pada diri sendiri.

  2. Mereka sangat menghormati perempuan tetapi lebih memilih berkumpul dengan kelompok laki-laki untuk bergaul

  3. Mereka tetap menjaga penampilan, walaupun tidak mengikuti tren fashion yang ada.

  4. Mereka cenderung lebih emosional

  5. Mereka sangat menghargai kualitas serta integritas

  6. Sumber inspirasinya adalah pengalaman dirinya sendiri

(Mathathia,Ira, Marian Salzman, Ann O’Reilly.(2006). The Future Of

Men. New York: Pallgrave Macmillan Trade).
2. Pria metroseksual

Metroseksual adalah kata majemuk yang berasal dari dua kata yaitu metropolitan dan heteroseksual. Pria metroseksual adalah pria yang yang sudah mapan. Pria Metroseksual menaruh perhatian lebih pada penampilan, mereka cenderung memiliki kepekaan mode, memilih pakaian berkualitas serta melakoni kebiasaan merawat diri dan memanjakan diri mereka (Simpson,mark,(2002),Meet the metroseksual, The Independent). Ciri- ciri pria metroseksual dapat dijabarkan sebagai berikut, antara lain:



  1. Memiliki gairah dirinya sendiri

  2. Mereka lebih cenderung suka bergaul dengan wanita sebagai sahabat baiknya.

  3. Sumber inspirasinya mengikuti penata gaya berpenampilan baik.

  4. Sangat memperhatikan asupan makan dan kalori yang masuk

  5. Tak gampang emosional

  6. Mereka selalu berupaya untuk menjaga penampilan


Pria perkotaan adalah sekelompok pria-pria yang tinggal di perkotaan yang terorganisasi secara akulturatif, dan menciptakan budaya yang permissive, tolerant dan konsumtif. Pola hidup mereka sangat berkembang, didukung oleh pendidikan yang tinggi dan pola pikir yang luas dan modern. Mobilitas yang tinggi merupakan ciri ciri kaum pria perkotaan. Bermacam-macam pekerjaan dan kegiatan mendominasi mereka.

Lebih luas di segmen yang berbeda kecenderungan pria perkotaan umumnya memiliki konteks hobi yang berbeda yang lebih spesifik dan mampu menjadi sarana hiburan mereka. Seperti Hobi yang digeluti pun rata rata hobi yang lebih bergengsi dan lebih mengikuti perkembangan tren zaman terkini. Menurut hasil riset oleh Next Luxury yaitu sebuah majalah online tentang Gaya Hidup Pria mengemukakan bahwa Pria dan Hobi merupakan dua hal yang tidak dapat terpisahkan. Hobi yang digeluti pria pun banyak, jika dahulu hobi yang digeluti hanya itu itu saja namun sekarang hobi pria lebih berkembang. Saat ini hobi yang banyak digeluti pria antara lain adalah music, games, sport dan adventure.

Dilihat dari segi kebutuhan bersosialisai Urban Men adalah tipikal pria yang senang berkumpul dengan teman-temannya sebagai pemenuhan kebutuhan bersosialisasi dan berbagi pendapat. Mereka lebih suka untuk berkelompok pada kelompok yang sesuai dengan gaya dan pola hidup mereka, walaupun begitu Pria perkotaan tetap memiliki fleksibilitas yang tinggi. Selain itu Pria perkotaan cenderung memiliki hasrat untuk mendapatkan hiburan sebagai penyeimbang pada kegiatan mereka yang padat dan mobilitas mereka yang tinggi.

Menurut Poplin(1972) Secara garis besar ciri-ciri pria perkotaan dapat dijabarkan sebagai berikut:



  1. Mempunyai perilaku heterogen

  2. Mempunyai perilaku yang dilandasi oleh konsep pengendalian diri dan kelembagaan.

  3. Mempunyai perilaku yang berorientasi pada rasionalitas dan fungsi

  4. Mobilitas sosial, sehingga dinamik

  5. Kebauran dan diversifikasi kultural

  6. Birokrasi fungsional dan nilai nilai secular

  7. Fleksibilitas yang tinggi

  8. Rasa percaya diri yang mumpuni




  1. Pengertian Men Space di Jakarta

Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia, Space adalah ruang atau tempat yang letaknya ditengah. Bedasarkan definisi tersebut dapat diartikan bahwa Men Space adalah Satu pemberhentian tempat yang terpusat bersifat temporer maupun permanen, yang letaknya strategis dimana pengunjung terutama pria-pria perkotaan di Jakarta dapat berkunjung dan dapat memenuhi kebutuhan lifestyle, entertainment dan refreshing mereka.

Men Space di Jakarta adalah tempat yang dirancang khusus untuk para pria-pria, khususnya yang bermukim dijakarta. Tempat ini menyediakan banyak fasilitas seperti concept store untuk pria yang mencari kebutuhan gaya hidup didalamnya terdapat banyak hal yang disuguhkan mulai dari apparel, footwear, accecories,hobby hingga lifestyle product.

Tidak hanya sebuah concept store namun terdapat pula barbershop, grooming dan refleksi. Kebutuhan Lifestyle tersebut diseimbangkan dengan fasilitas lainnya seperti kafe, bar & Lounge. Café tersebut memiliki fungsi yang lain, selain untuk tempat hangout yang menyediakan makanan dan minuman namun juga dapat menjadi sarana nonton bareng, gigs, music live. Lounge disediakan dengan konsep multifungsi dengan menyediakan fasilitas games arcade, pool billiard, pingpong,Air Hockey, Darts, Foosball dan memorabilia spot. Selain itu lounge dapat dipergunakan sebagai sarana membuat event, launching atau party.


2.1.2. Fungsi dan Tujuan

Men Space di Jakarta merupakan sebuah tempat dengan mengusung konsep All in one lifestyle and entertainment yang dikhususkan pada kebutuhan pria urban, hal tersebut memberikan suatu konstribusi yang positif antara lain :

  • Sarana ini bersifat dinamis dan to the point.

  • Pusat retail, lifestyle dan entertainment bagi pria urban dengan segala karakteristik mereka

  • Menghemat waktu bagi mereka yang mempunyai mobilitas tinggi dan ingin mencari kebutuhan yang mereka perlukan

  • Sarana Refreshing dan mengisi waktu luang saat menghindari kemacetan Jakarta

  • Menciptakan kemitraan dengan local brand maupun internasional brand

  • Sebagai media sosialisasi


2.1.3. Persyaratan Umum

Men Space di Jakarta harus memiliki daya tarik dan konseptual yang jelas sehingga peminat khususnya para pria dapat berkunjung dan berbelanja pada tempat tersebut, faktor-faktor yang dimiliki antara lain:

  1. Keragaman barang barang yang disediakan dan dijual

  2. Product/Brand yang khas dan sedang menjadi trend terkini

  3. Produk/Brand yang varisi dari mulai local brand sampai internasional

  4. Lokasi yang strategis nyaman dan bersih

  5. Desain ruangan (venue) yang menarik dan unik

  6. Lingkungan yang menarik

  7. Pelayanan yang baik

  8. Pasar yang kompetitif

  9. Harga dan proporsi nilai

  10. Peluang bersosialisasi

  11. Suasana yang modern dan up to date


2.1.4. Klasifikasi Jenis Kegiatan pada Men Space di Jakarta

Klasifikasi Jenis Kegiatan pada Men Space di Jakarta dapat dibedakan menjadi beberapa bagian kegiatan yaitu, yaitu:



  1. Kegiatan Berbelanja

  1. Kegiatan berbelanja yang dilakukan untuk memenuhi kebutuhan diri yang dibutuhkan oleh para pria.

  1. Kegiatan Potong rambut dan reflexy

a. Kegiatan potong rambut adalah kegiatan yang dilakukan untuk merapihkan rambut dan menata rambut.

b. Kegiatan reflexy merupakan kegiatan relaksasi untuk menghilangkan rasa letih dan memperlancar peredaran darah.

3. Kegiatan lain

a. Makan dan minum

b. Bermain game

c. Gigs

d. Nonton Bareng (Nobar)

e. Bersantai

f. event

g. Lain-lain


2.1.5. Klasifikasi Jenis Aktivitas pada Men Space di Jakarta

Klasifikasi jenis aktivitas yang dilakukan di dalam Men Space di Jakarta dapat dibagi menjadi beberapa bagian sebagai berikut:



  1. Aspek aktivitas pengunjung

    • Pengunjung yang datang untuk berbelanja

    • Pengunjung yang datang untuk melakukan kegiatan lain di luar berbelanja seperti makan/minum, bermain games, potong rambut, relaksasi, gigs atau pengunjung yang sekedar bertemu dengan rekan kerja atau teman.

  2. Aspek aktivitas karyawan

    • Karyawan yang bertugas untuk menjaga dan memelihara fasilitas.

    • Karyawan yang bertugas untuk menjaga keamanan dan keselamatan pengunjung.

    • Karyawan yang bertugas untuk melayani pengunjung.


2.1.6. Klasifikasi Jenis Fasilitas pada Men Space di Jakarta

Klasifikasi Jenis fasilitas yang terdapat pada sebuah Men Space di Jakarta dapat dibagi menjadi beberapa bagian sebagai berikut:

1. Fasilitas Berbelanja

Fasilitas berbelanja pada Men Space di Jakarta ini mencakup banyak produk yang dijual, terutama yang para pria cari dan yang mereka biasa belanjakan antara lain:

a. Menswear

b. Footwear

c. Accecories

d. Grooming product

e. Health Product

f. Sport

g. Games

h. Kamera, Audio & Video

i. E-Ciggarets

j. Bikers Accecories

k. Music

2. Fasilitas Barbershop

3. Fasilitas Reflexology

4. Fasilitas Cafe & Bar

5. Fasilitas Lounge

6. Fasilitas Music live Stage

7. Fasilitas memorabilia spot

2.1.7 Persyaratan Fasilitas pada Men Space di Jakarta

Ketika akan membangun sebuah tempat baru seperti Men Space, alokasi ruang dan manajemen merupakan bagian paling penting dalam proses karena berfokus pada perencanaan, proyeksi, alokasi, evaluasi dan penggunaan ruang. Tujuan dari manajemen ruang efektif adalah untuk memastikan ruang secara tepat didistribusikan berdasarkan penilaian kebutuhan, memberikan jalan untuk menetapkan standar untuk mengalokasikan ruang, memberikan kesempatan untuk menentukan kebutuhan yang dapat dikonsolidasikan ke dalam ruang yang sama untuk membantu mengurangi biaya-biaya lain (utilitas, pemeliharaan dan operasional), membantu dengan proses konstruksi dengan mengurangi kemungkinan kesalahan dan kelalaian dan memungkinkan komite perencanaan untuk melakukan evaluasi akhir untuk menentukan setiap kekurangan persediaan ruang. (Schwarz, Hall, & Shibli, 2010:56).




  • Akses

Internal: pergerakan di lokasi

  • External

    • Jalan masuk/jalan keluar

    • Jalan dan lalu lintas

    • Ketersediaan transportasi umum

  • Utilitas

  • Listrik

  • Air

  • Selokan/septic tank

  • Telepon

  • Saluran minyak/gas alam

  • Ketersediaan ruang untuk parkir yang memadai

  • Dampak lingkungan

  • Udara

  • Iklim

  • Gangguan (contoh: kemacetan)

  • Karakteristik lingkungan (topografi, geologi, hidrologi, pedologi)

  • Dampak terhadap komunitas dan politik

  • Struktural

  • Dukungan

  • Kemudahan

  • Persyaratan zonasi

  • Dampak ekonomi

  • Tenaga kerja

  • Kecenderungan demografi

  • Pajak

  • Biaya utilitas

  • Kompetisi

Setelah memperhatikan dalam memilih lokasi Men Space di Jakarta, Maka hal berikutnya yang perlu diperhatikan ada persyaratan-persyaratan pada setiap fasilitas-fasilitas yang ada, sebagai berikut:


2.2. Tinjauan Umum Retail

Retail adalah penjualan dari suatu komoditas kepada konsumen. Berasal dari bahasa Perancis, dengan asal kata retailer yang berarti memotong menjadi kecil-kecil (Risch, 1991, p.2). Dalam kamus bahasa Indonesia retail dapat diartikan eceran.

Retail dapat dibedakan menjadi beberapa jenis, sebagai berikut :

  1. Speciality Store, biasa terletak pada daerah urban dan sub urban. Produk yang ditawarkan sangat bervariasi.

  2. General Store, toko yang memiliki keterbatasan dalam produk yang ditawarkan, biasanya dalam satu jenis produk yang sama.

  3. Flea Market Store, tempat perorangan dalam menjalankan bisnis retail dan segala keperluan ditentukan oleh pemilik toko. Sering ditemukan pada daerah pedesaan, tetapi mudah ditemui diperkotaan seperti kios, kedai, dan stan.

  4. Boutique, tempat dimana lebih banyak kaum wanita untuk membeli segala keperluan dalam bidang fashion.

  5. Department Store, tempat yang menawarkan variasi produk dalam jumlah yang besar, meliputi hard goods atau soft goods. Point terbesar terdapat pada tingkat pelayanan, pekerja dalam jumlah besar, dan volume penjualan.

  6. Chain Store, berpusat pada pemilik dan pengaturan organisasinya terdapat dua atau lebih unit yang sama, disetiap unitnya memiliki klasifikasi barang yang sama. Seperti toko obat-obatan, sepatu, restoran, jewelery, dan lainnya.

  7. Supermarket, tiap konsumen memilih dan membeli sesuatu mengandalkan diri sendiri. Barang yang ditawarkan beragam seputar kebutuhan rumah tangga, bahan makanan dan lainnya.

  8. Direct Marketing Retailer, merupakan toko yang penawaran barangnya menggunakan mediator katalog. Pembelian produk dapat melalui telepon, email, sms dan media lainnya.


2.2.1 Fungsi dan Tujuan Terhadap Retail

  Retail merupakan tahap akhir proses distribusi dengan dilakukannya penjualan langsung pada konsumen akhir.Bisnis retail bertujuan sebagai perantara antara distributor dengan konsumen akhir. Retailer berperan sebagai penghimpun barang, took retail sebagai tempat rujukan.

Beberapa fungsi pada retail dapat dijabarkan sebagai berikut :

1. Retail berperan sebagai penentu eksistensi barang dari manufacture

di pasar konsumsi.

2. Membeli dan menyimpan barang.

3. Memindahkan hak milik barang tersebut kepada konsumen akhir.

4. Memberikan informasi mengenai sifat dasar dan pemakaian barang

tersebut.

5. Memberikan kredit kepada konsumen (dalam kasus tertentu).


2.2.2 Klasifikasi Jenis Kegiatan pada Retail

  1. Konsumsi

Retail menawarkan produk yang pastinya untuk dibeli oleh pelanggan serta pelanggan yang datang bermaksud untuk membeli produk tersebut berdasarkan kebutuhan atau hanya menunjang kesenangan mereka dan akan di konsumsi atau di pakai oleh pelanggan tersebut.


  1. Transaksi

Aktifitas jual beli yang berlangsung, membuat sebuah kegiatan pembayaran akan produk yang pelanggan pilih untuk dikonsumsi dengan cara transaksi.

  1. Rekreasi

Pengunjung yang datang bermaksud untuk mencari kesenangan

dengan membeli suatu produk tertentu yang akan ia pakai atau

konsumsi.


  1. Edukasi

Pengunjung yang datang ingin mendapatkan pengetahuan mengenai kualitas produk yang dijual, dengan fungsi yang sama tetapi ditawarkan dengan berbagai jenis yang berbeda membuat para pelanggan mempelajari akan kebutuhan dan keunggulan suatu produk.
2.2.3 Perilaku konsumen

Perilaku Konsumen Perilaku konsumen merupakan suatu tindakan yang langsung terlibat dalam mendapatkan, mengkonsumsi, dan menghabiskan produk dan jasa, termasuk proses keputusan yang mendahului dan menyusuli tindakan ini (Engel, Blackwell, Miniard, 1994: 3). Setiap pembelian konsumen tercipta karena adanya needs (kebutuhan, keperluan) atau wants (keinginan) atau campuran keduanya. Sering kali untuk mudahnya, kebutuhan dan keinginan disebut sebagai kebutuhan. Selain kebutuhan dan keinginan, ada satu kata lagi yang berdekatan, yaitu “harapan”. Harapan sering kali tersembunyi di hati pelanggan (Ma’ruf, 2006: 50). Perilaku konsumen muncul karena adanya berbagai faktor. Adapun faktor-faktor yang mempengaruhi perilaku konsumen menurut Kotler (2012: 159-174), adalah sebagai berikut:

1. Faktor budaya

a. Culture (Budaya)

b. Subculture (Subkultur)

c. Kelas sosial

2. Faktor-faktor sosial

a. Kelompok dan jaringan sosial

b. Keluarga

c. Peran dan status

3. Faktor pribadi

a. Usia dan tahap siklus hidup

b. Pekerjaan

c. Situasi ekonomi

d. Gaya hidup

e. Kepribadian dan Konsep Diri

4. Faktor Psikologis

a. Motivasi

b. Persepsi

c. Keyakinan dan Sikap


2.2.4 Klasifikasi Jenis Aktifitas Retail

Aktifitas pada retail dapat dibedakan menjadi tiga, yaitu :

1. Aspek pengunjung/konsumen


  • Pengunjung yang datang melihat-lihat dan memilih barang apa yang mereka cari dan butuhkan.

  • Pengunjung bertanya pada pegawai tentang barang yang mereka cari

  • Pengunjung meminta pegawai untuk mencarikan produk yang mereka cari.

  • Pengunjung memakai fasilitas tambahan seperti wifi

  • Pengunjung melakukan pembayaran pada barang yang ia beli.

2. Aspek penunjang kinerja pegawai

  • Pegawai melayani konsumen yang ingin memakai jasanya.

  • Pegawai mengambilkan barang yang dicari dan diinginkan konsumen.

  • Pegawai harus cepat bergerak mencari barang, ketika pengunjung menginginkan suatu request. Seperti mencarikan size sepatu atau pakaian, atau stock dari pajangan yang baru.

  • Pegawai menjaga masing masing spot-spot retail yang ada.

  • Pegawai melayani pengunjung yang ingin membayar

3. Aspek pegawai



  • Pegawai membuat laporan harian, mingguan, bulanan dan tahunan pengeluaran dan pendapatan retail pada Men Space di Jakarta.

  • Pegawai mengadakan diskusi kepada atasan atau pemilik Men Space di Jakarta mengenai permasalahan permasalahan yang mungkin timbul.

  • Mengadakan penentuan pegawai yang akan menangani pada tiap konsumen pada spot-spot retail yang ada.


2.2.5 Klasifikasi Fasilitas

  1. Fasilitas untuk pengelola, yaitu :

  • Ruang kantor, dimana tempat pegawai melakukan pekerjaan

sesuai tugasnya masing-masing.

  1. Fasilitas komersil, yaitu :

  • Vitrine pakaian

  • Vitrine Footwear

  • Vitrine aksesoris

  • Vitrine Gadget

  • Vitrine aksesoris berkendaraan

  • Vitrine sport

  • Ruang ganti


2.2.6 Persyaratan Umum Retail

  1. Lokasi dapat dijangkau dengan mudah dalam suatu area perdagangan. Memiliki akses untuk keluar masuk kendaraan.

  2. Parkir yang cukup dan sesuai dengan permintaan komersial

secara keseluruhan.

3. Satu lokasi yang mana dapat menjadi bangunan atau fungsi lain

yang mendukung perdagangan tersebut.

4. Lingkungan sekitar mendukung dan nyaman untuk berbelanja dan

mampu menciptakan suasana dan karisma untuk perbelanjaan

tersebut.

5. Pendukung lokasi untuk menciptakan suasana belanja yang

menarik, aman dan nyaman. Seperti taman dan promosi lainnya.

6. Gedung tergabung dan menyediakan untuk penyewa yang

diseleksi sesuai dengan kebutuhan dan dikelola untuk

mendapatkan keuntungan bagi penyewa.
2.2.7 Persyaratan Khusus Retail

Terdiri dari 7 unsur yaitu :



  1. Unsur Hardware, meliputi lokasi dan arsitektur bangunan.

  2. Unsur Software, meliputi daya tarik, fasilitas penunjang pengunjung, fasilitas kemudahan pengunjung, dan kelengkapan produk.

  3. Unsur Brainware, meliputi manajemen dalam mengelola.

  4. Unsur Promotion & Publication, meliputi pengiklanan, publikasi, diskon, dan lainnya yang mendukung pemasaran.

  5. Unsur Merchandising, pengadaan barang-barang untuk disediakan di dalam toko untuk mencapai sasaran toko.

  6. Unsur Pricing, penetapan harga yang patut pada tiap produk yang ditawarkan oleh toko berdasarkan faktor harga saing antar toko, biaya produksi, dan berdasarkan permintaan konsumen (Berman & Evans, 2004).

  7. Unsur Atmosfer, suasana dalam toko yang berperan memikat para calon pembeli. Itu semua terbentuk dari :

              1. Desain eksternal, meliputi desain depan toko yang menunjukkan ke khasan toko tersebut, marquee meliputi simbol yang berupa tulisan atau gambar, pintu masuk dan jalan masuk toko.

              2. Desain internal, meliputi visual yang berkaitan dengan pencahayaan, ukuran dan bentuk-bentuk desain furniture di dalamnya, tactile berkaitan dengan sentuhan tangan dan kulit, olfactory meliputi aroma dan aural meliputi suara-suara yang dihasilkan di dalam toko, seperti musik yang di putar oleh pengelola.

  1. Unsur Sales, pada sales harus memenuhi peran-peran penting seperti :

  1. Selling yaitu mendorong produk tertentu agar naik tingkat penjualannya.

  2. Cross Selling yaitu menawarkan produk lain yang berkaitan dengan produk yang diminati konsumen.

  3. Advising yaitu berperan menjadi penasihat konsumen untuk memberikan pandangan pada produk yang dibeli konsumen.




Dostları ilə paylaş:
  1   2   3   4


Verilənlər bazası müəlliflik hüququ ilə müdafiə olunur ©genderi.org 2019
rəhbərliyinə müraciət

    Ana səhifə