Kesehatan mental = kesehatan jiwa (istilah mental digunakan untuk menghindarkan arti ganda kata jiwa)



Yüklə 467 b.
tarix17.09.2017
ölçüsü467 b.



Kesehatan mental = kesehatan jiwa (istilah mental digunakan untuk menghindarkan arti ganda kata jiwa)

  • Kesehatan mental = kesehatan jiwa (istilah mental digunakan untuk menghindarkan arti ganda kata jiwa)

  • Definisi kesehatan mental (WHO) : a state of well-being - kondisi ketika seseorang merasa sehat dan bahagia -, mampu menghadapi tantangan hidup, dapat menerima orang lain apa adanya, bersikap positif terhadap diri sendiri dan orang lain, serta berkegiatan yang produktif



Gangguan jiwa : ditandai oleh gejala klinik yang nyata, ada/tidak ada keluhan subyektif, serta terdapat hendaya (impairment) dalam fungsi penting kehidupan sehari-hari (yaitu fungsi pekerjaan dan fungsi sosial)

  • Gangguan jiwa : ditandai oleh gejala klinik yang nyata, ada/tidak ada keluhan subyektif, serta terdapat hendaya (impairment) dalam fungsi penting kehidupan sehari-hari (yaitu fungsi pekerjaan dan fungsi sosial)

  • Gejala klinik: dibuktikan dengan terdapatnya psikopatologi pada pemeriksaan klinik

  • Keluhan subyektif dialami sebagai “distress”



Penting sebagai 1) landasan kerja klinik (menentukan tindakan terapi), 2) sebagai alat komunikasi dengan rekan profesi, 3) sebagai alat pencatatan untuk kepentingan penelitian dan statistik

  • Penting sebagai 1) landasan kerja klinik (menentukan tindakan terapi), 2) sebagai alat komunikasi dengan rekan profesi, 3) sebagai alat pencatatan untuk kepentingan penelitian dan statistik

  • Disepakati dalam psikiatri diagnosis dibuat berdasarkan deskripsi gejala dan bersifat a-teoretik, karena sampai saat ini tidak ada satu pun gangguan jiwa yang diketahui secara pasti penyebabnya (kecuali gangguan mental organik)



Diagnosis ditegakkan dengan kerangka pikir hierarkik yang menempatkan gangguan mental organik pada hierarkik tertinggi. Artinya harus disingkirkan dulu penyebab organik, baru turun ke kondisi mental/psikologik.

  • Diagnosis ditegakkan dengan kerangka pikir hierarkik yang menempatkan gangguan mental organik pada hierarkik tertinggi. Artinya harus disingkirkan dulu penyebab organik, baru turun ke kondisi mental/psikologik.

  • Penyebab organik : tumor, infeksi, trauma metabolisme, penggunaan zat , peny pembuluh darah dsb. yang semua menimbulkan gangguan fungsi otak yang bermanifestasi dalam gangguan perilaku



Cara membuat diagnosis adalah dengan mengumpulkan gejala yang ditemukan sehingga memenuhi kriteria yang disyaratkan dalam penggolongan diagnosis menurut PPDGJ (Pedoman dan Penggolongan Diagnosis Gangguan Jiwa)

  • Cara membuat diagnosis adalah dengan mengumpulkan gejala yang ditemukan sehingga memenuhi kriteria yang disyaratkan dalam penggolongan diagnosis menurut PPDGJ (Pedoman dan Penggolongan Diagnosis Gangguan Jiwa)

  • Contoh : Skizofrenia

  • Gangguan Bipolar



Gangguan Depresi

  • Gangguan Depresi

  • Gangguan Cemas

  • Gangguan Penyesuaian

  • Gangguan Somatisasi

  • Gangguan Kepribadian



Didefinisikan sebagai pola perilaku yang menetap yang mencakup persepsi diri dan persepsi terhadap lingkungan sehingga akan mempengaruhi hubungan interpersonal

  • Didefinisikan sebagai pola perilaku yang menetap yang mencakup persepsi diri dan persepsi terhadap lingkungan sehingga akan mempengaruhi hubungan interpersonal

  • Tanda utama terdapat dalam area kognitif, afektif, hubungan interpersonal dan kontrol impuls



Contoh :

  • Contoh :

  • 1. Gangguan Kepribadian Paranoid: curiga tanpa alasan bahwa orang lain akan mencelakakan/menjatuhkan dirinya, tidak percaya, meragukan kesetiakawanan, tidak terbuka karena takut informasi tentang dirinya disalahgunakan, pendendam, cemburuan



2. Gangguan Kepribadian Skizoid : penyendiri, tak butuh teman, “cuek” terhadap pujian atau kritikan, emosi dingin, berjarak

  • 2. Gangguan Kepribadian Skizoid : penyendiri, tak butuh teman, “cuek” terhadap pujian atau kritikan, emosi dingin, berjarak

  • 3. Gangguan Kepribadian Antisosial: melanggar norma sosial atau hukum yang berlaku sehingga berulang ditangkap polisi, tidak dapat dipercaya karena pembohong, sering menipu (untuk keuntungan/kesenangan dirinya), impulsif (tidak pikir panjang),



….irrirtable, agresif, berulang berkelahi, mengabaikan keselamatan oranglain, tidak bertanggungjawab (tidak bayar hutang), tidak ada rasa bersalah, “cuek” bahwa telah menyakiti orang lain atau cari alasan rasionalisasi

  • ….irrirtable, agresif, berulang berkelahi, mengabaikan keselamatan oranglain, tidak bertanggungjawab (tidak bayar hutang), tidak ada rasa bersalah, “cuek” bahwa telah menyakiti orang lain atau cari alasan rasionalisasi



4. Gangguan Kepribadian Ambang (Borderline): tidak stabil dalam hubungan interpersonal (takut ditinggal), bisa sangat menyanjung atau membenci seseorang, identitas diri sangat tak stabil, emosi labil (irritable, cemas, disforik), impulsif (penyalahgunaan zat, boros, ngebut, sex bebas), berulang mencoba bunuh diri, merasa hampa

  • 4. Gangguan Kepribadian Ambang (Borderline): tidak stabil dalam hubungan interpersonal (takut ditinggal), bisa sangat menyanjung atau membenci seseorang, identitas diri sangat tak stabil, emosi labil (irritable, cemas, disforik), impulsif (penyalahgunaan zat, boros, ngebut, sex bebas), berulang mencoba bunuh diri, merasa hampa



5. Gangguan Kepribadian Histrionik: selalu ingin menjadi pusat perhatian, seduktif/provokatif secara seksual, emosi cepat berubah, menggunakan daya tarik fisik untuk mendapat perhatian, dramatisasi, teatral, mudah disugesti, “sok akrab”

  • 5. Gangguan Kepribadian Histrionik: selalu ingin menjadi pusat perhatian, seduktif/provokatif secara seksual, emosi cepat berubah, menggunakan daya tarik fisik untuk mendapat perhatian, dramatisasi, teatral, mudah disugesti, “sok akrab”



6. Gangguan Kepribadian Narsisistik: merasa diri penting, superior yang tak didukung fakta, berpreokupasi tentang kesuksesan diri (kekuasaan, kepintaran, kecantikan), percaya bahwa dirinya spesial karena itu hanya pantas bergaul dengan orang yang berstatus sosial tinggi, mengharap diperlakukan istimewa, mengeksploitasi orang lain, kurang punya empati, iri terhadap orang lain atau menuduh orang lain iri padanya, angkuh

  • 6. Gangguan Kepribadian Narsisistik: merasa diri penting, superior yang tak didukung fakta, berpreokupasi tentang kesuksesan diri (kekuasaan, kepintaran, kecantikan), percaya bahwa dirinya spesial karena itu hanya pantas bergaul dengan orang yang berstatus sosial tinggi, mengharap diperlakukan istimewa, mengeksploitasi orang lain, kurang punya empati, iri terhadap orang lain atau menuduh orang lain iri padanya, angkuh



7. Gangguan Kepribadian Menghindar: menghindari aktivitas yang melibatkan hubungan dengan orang lain karena takut dikritik atau ditolak, hanya mau bergaul kalau ada jaminan bahwa ia diterima, sulit memulai hubungan dengan orang lain karena takut dipermalukan, menganggap dirinya tak mampu dan lebih rendah dari orang lain

  • 7. Gangguan Kepribadian Menghindar: menghindari aktivitas yang melibatkan hubungan dengan orang lain karena takut dikritik atau ditolak, hanya mau bergaul kalau ada jaminan bahwa ia diterima, sulit memulai hubungan dengan orang lain karena takut dipermalukan, menganggap dirinya tak mampu dan lebih rendah dari orang lain



8. Gangguan Kepribadian Dependen : sulit memutuskan dalam kejadian sehari-hari tanpa minta nasehat orang lain, tergantung kepada orang lain dalam sebagian besar area kehidupannya, rela berkorban untuk yang digantunginya, sulit mengerjakan sesuatu sendiri, merasa tak berdaya ketika sendiri, selalu khawatir bahwa akan ditinggal oleh yang digantunginya

  • 8. Gangguan Kepribadian Dependen : sulit memutuskan dalam kejadian sehari-hari tanpa minta nasehat orang lain, tergantung kepada orang lain dalam sebagian besar area kehidupannya, rela berkorban untuk yang digantunginya, sulit mengerjakan sesuatu sendiri, merasa tak berdaya ketika sendiri, selalu khawatir bahwa akan ditinggal oleh yang digantunginya



9. Gangguan Kepribadian Obsesif-kompulsif (Anankastik): berpreokupasi terhadap detil, aturan, urutan, daftar, jadwal sehingga mengabaikan hal utama, perfeksionis (terlambat membuat laporan karena belum sempurna), mencintai pekerjaaan sehingga tak dapat bersenang-senang, sangat berhati-hati dan mematuhi kaidah moral dan etik, tak dapat membuang benda-benda yang menurutnya mengandung kenangan, tak bisa mendelegasikan tugas kepada orang lain karena takut tak memenuhi standar menurutnya, kaku dan keras kepala, pelit

  • 9. Gangguan Kepribadian Obsesif-kompulsif (Anankastik): berpreokupasi terhadap detil, aturan, urutan, daftar, jadwal sehingga mengabaikan hal utama, perfeksionis (terlambat membuat laporan karena belum sempurna), mencintai pekerjaaan sehingga tak dapat bersenang-senang, sangat berhati-hati dan mematuhi kaidah moral dan etik, tak dapat membuang benda-benda yang menurutnya mengandung kenangan, tak bisa mendelegasikan tugas kepada orang lain karena takut tak memenuhi standar menurutnya, kaku dan keras kepala, pelit



Tatalaksana komprehensif meliputi :

  • Tatalaksana komprehensif meliputi :

  • > farmakoterapi

  • > psikoterapi

  • > manipulasi lingkungan



  • Terima Kasih





Dostları ilə paylaş:


Verilənlər bazası müəlliflik hüququ ilə müdafiə olunur ©genderi.org 2017
rəhbərliyinə müraciət

    Ana səhifə