Microsoft Word Naskah Publikasi Baru rtf



Yüklə 144,94 Kb.
Pdf görüntüsü
tarix18.05.2018
ölçüsü144,94 Kb.
#44942


TINGKAT PENGETAHUAN AKSEPTOR KELUARGA BERENCANA 

TENTANG KONTRASEPSI ORAL DI KELURAHAN BALUWARTI 

KECAMATAN PASAR KLIWON SURAKARTA 

 

 

 

 

NASKAH PUBLIKASI 

 

 



 

 

 



 

 

 

Oleh : 

 

 

PRAMESTHI TIKSNA INDRESWARI 

K 100 090 084 

 

 

 

 

 

FAKULTAS FARMASI 

UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH SURAKARTA 

SURAKARTA 

2014 


 

 

2



 

 

 

 

 

 


 

 

1



TINGKAT PENGETAHUAN AKSEPTOR KELUARGA BERENCANA 

TENTANG KONTRASEPSI ORAL DI KELURAHAN BALUWARTI 

KECAMATAN PASAR KLIWON SURAKARTA 

 

THE LEVEL OF KNOWLEDGE FAMILY PLANNING ACCEPTORS ABOUT 

ORAL CONTRACEPTIVE IN BALUWARTI VILLAGE PASAR KLIWON 

SUBDISTRICT SURAKARTA  

 

Pramesthi Tiksna Indreswari, Tri Yulianti 

Fakultas Farmasi Universitas Muhammadiyah Surakarta 

Jl. Ahmad Yani, Tomol Pos 1, Pabelan Kartasura Surakarta 57102 Telp. (0271) 

717417 

 

ABSTRAK 

 

Penggunaan kontrasepsi oral banyak dipilih karena dianggap paling efektif 

dan harus digunakan secara rutin. Hal ini tidak menutup kemungkinan pengguna 

kontrasepsi oral akan lalai karena kurangnya pengetahuan. Pengetahuan akseptor 

tentang kontrasepsi menjadi tolok ukur keberhasilan akseptor dalam hal 

pengaturan kehamilan. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengukur tingkat 

pengetahuan akseptor KB oral tentang kontrasepsi oral di Kelurahan Baluwarti 

Kecamatan Pasar Kliwon Surakarta. Jenis penelitian ini merupakan penelitian 

deskriptif untuk mengetahui tingkat pengetahuan akseptor KB oral tentang 

kontrasepsi oral di Kelurahan Baluwarti Kecamatan Pasar Kliwon Surakarta. Alat 

yang digunakan adalah kuesioner. Pengambilan sampel menggunakan teknik 

purposive sampling dengan jumlah responden 30 akseptor KB oral. Data untuk 

menggambarkan tingkat pengetahuan disajikan dalam bentuk persentase (%) 

dengan kategorisasi (sangat baik, baik, cukup, kurang, sangat kurang). Analisis 

data yang digunakan adalah uji Chi-Squere. Hasil penelitian menunjukkan tingkat 

pengetahuan akseptor KB oral tentang kontrasepsi oral di Kelurahan Baluwarti 

Surakarta dengan kategori sangat baik sebanyak 20%, kategori baik 26,7%, 

kategori cukup 13,3%, kategori kurang 33,3% dan kategori sangat kurang 6,7%. 

Dari hasil tersebut menunjukkan tingkat pengetahuan akseptor kontrasepsi oral 

tentang kontrasepsi oral di Kelurahan Baluwarti mayoritas termasuk kategori 

kurang. Dari uji Chi-Squere pada tiap variabel, didapatkan hubungan yang 

signifikan antara karakteristik dengan tingkat pengetahuan sebesar (p<0,05). 

 

Kata Kunci : Tingkat Pengetahuan, Kontrasepsi Oral, Kuesioner, Akseptor    

Kontrasepsi Oral 

 

ABSTRACT 

 

The use of oral contraceptives has been chosen because it is considered 

the most of efective and should be use routinely. This does not of out possibility of 

oral contraceptives users will miss due of lack the knowledge. Knowledge of oral 



 

 

2



contraceptive acceptors become a measure of success in terms of setting acceptor 

pregnancy. The purpose of this study was to measure the level of knowledge about 

family planning acceptors of oral contraceptives in Sub Baluwarti Pasar Kliwon 

District of Surakarta. This type of research is a descriptive study to determine the 

level of knowledge about family planning acceptors of oral contraceptives in Sub 

Baluwarti Pasar Kliwon District of Surakarta. The instrument used was a 

questionnaire. The method using was a survey method the purposive sampling 

with 30 respondents. Data to describe the level of knowledge is presented as a 

percentage (%) with categorization (very good, good, fair, less, very less). 

Analysis of the data used is the Chi-Squere. The results show the level of 

knowledge family planning acceptors about oral contraceptives in the Village 

Baluwarti Surakarta with the excellent category very good as 20%, good category 

26.7%, a fair category 13.3%, 33.3% less category and the category of very less 

6.7 %. From these results indicate the level of knowledge oral contraceptive 

acceptors about oral contraceptives in the Village Baluwarti majority less 

category. From Chi-Squere on each variable, found a significant relationship 

between the level of knowledge with the characteristics (p <0.05). 

 

Keywords  : Knowledge Level, Oral Contraceptives, Questionnaire, Oral 

 

 

 

Contraceptives Acceptors 

 

PENDAHULUAN 

Negara Indonesia merupakan salah satu negara berkembang dengan 

berbagai jenis masalah. Salah satu masalah utama yang sedang dihadapi oleh 

negara Indonesia saat ini yaitu di bidang kependudukan yang masih tinggi. 

Pemerintah terus berupaya untuk menekan laju pertumbuhan penduduk dengan 

adanya program Keluarga Berencana atau yang lebih dikenal dengan program KB 

(Manuba, 2001).  Salah satu strategi dalam upaya menurunkan tingkat fertilitas 

adalah melalui penggunaan kontrasepsi yang berfungsi untuk mencegah terjadinya 

kehamilan (BKKBN, 2011). 

Saat ini pil KB dianggap paling efektif karena bekerja dengan cara 

mengahambat terjadinya implantasi dalam endometrium, karena pil KB 

mengandung hormon, baik dalam bentuk kombinasi progestin dengan estrogen 

atau progestin saja (Derek & Jones, 2002). Pil KB dapat mencegah kehamilan 

dengan cara menghentikan ovulasi (pelepasan sel telur oleh ovarium) dan  

menjaga kekentalan lendir serviks sehingga tidak dapat dilalui oleh sperma 

(Wiknjosastro, 2005). Melihat penggunaan kontrasepsi oral yaitu dengan pil KB 

banyak dipilih karena diaggap paling efektif dan juga memang harus digunakan 

secara rutin sehingga memungkinkan pengguna akseptor KB akan lalai, maka 

penggunaannya harus dipantau secara ketat (Halpern & Grimes, 2007). 

Ada beberapa kemungkinan kurang berhasilnya program KB, diantaranya 

dipengaruhi oleh tingkat pengetahuan ibu. Untuk itu pemberian informasi akan 

mempengaruhi tingkat pengetahuan akseptor KB. Dan memperkecil resiko 

terjadinya hal-hal yang tidak diinginkan (Saifuddin, 2006). Dari penelitian 

sebelumnya yang ada di kecamatan Jenu dan Jatirogo kabupaten Tuban, bahwa 




 

 

3



rata-rata penggunaan metode kontrasepsinya tidak efektif. Hal ini disebabkan 

karena rendahnya pengetahuan akseptor. Kontrasepsi oral mampu berfungsi 

optimal dan efektif sebagai alat kontrasepsi apabila akseptor mampu memahami 

aturan pemakaian, mengetahui keuntungan dan kerugian kontrasepsi oral, cara 

penggunaan dengan baik dan efek samping dari kontrasepsi oral. Oleh karena itu, 

pengetahuan akseptor kontrasepsi oral menjadi tolok ukur keberhasilan akseptor 

dalam hal pengaturan kehamilan, pembinaan ketahanan keluarga dan peningkatan 

kesejahteraan keluarga untuk mewujudkan keluarga kecil yang bahagia dan 

sejahtera. 

 

Sehubungan dengan hal di atas, maka peneliti tertarik untuk mengetahui 



mengetahui tingkat pengetahuan akseptor keluarga berencana tentang kontrasepsi 

oral di Kelurahan Baluwarti Kecamatan Pasar Kliwon Surakarta. 



METODE PENELITIAN 

 

A.

 

Rancangan Penelitian  

 

Jenis penelitian yang digunakan adalah penelitian deskriptif yaitu jenis 

penelitian yang dilakukan untuk mendeskripsikan atau menggambarkan tentang 

suatu keadaan secara obyektif (Notoadmodjo, 2010). Dalam hal ini digunakan 

untuk mengetahui tingkat pengetahuan akseptor kontrasepsi oral tentang 

kontrasepsi oral di Kelurahan Baluwarti Kecamatan Pasar Kliwon Surakarta. 

 

B.

 

Definisi Operasional dan Variabel Penelitian 

 

Definisi Operasional : 



1)

 

Tingkat Pengetahuan tentang kontrasepsi oral adalah sejauh mana akseptor 



mengetahui tentang kontrasepsi oral, yang meliputi bagaimana 

penggunaan kontrasepsi oral, kapan waktu menggunakan kontrasepsi oral, 

bagaimana aturan pemakaiannya, indikasi apa yang ada di dalam pil 

kontrasepsi ini, apa keuntungan dan kerugian dalam menggunakan 

kontrasepsi ini, dan apa efek samping yang timbul setelah penggunaan 

kontrasepsi ini. 

2)

 

Akseptor Keluarga Berencana adalah ibu-ibu yang menggunakan 



kontrasepsi oral di kelurahan Baluwarti Kecamatan Pasar Kliwon 

Surakarta. 

3)

 

Kontrasepsi Oral adalah  kontrasepsi untuk wanita dalam bentuk tablet 



yang berisikan hormon. Ada 2 macam kontrasepsi oral yakni pil oral 

kombinasi hormon esterogen dan progesteron (POK) dan pil oral yang 

mengandung hormon progesteron saja (minipil). 

 

 



C.

 

Alat Penelitian 

 

Peneliti mengumpulkan data menggunakan angket atau kuesioner dengan 



cara membagikan angket atau kuesioner kepada responden akseptor Keluarga 

Berencana yang menggunakan kontrasepsi oral di Kelurahan Baluwarti 




 

 

4



Kecamatan Pasar Kliwon Surakarta. Angket yang digunakan menurut cara 

peyampaiannya menggunakan angket langsung yakni, disampaikan langsung 

kepada orang yang dimintai informasinya tentang dirinya sendiri (Notoadmojo, 

2010). 


Sebelumnya peneliti membuat inform concent atau persetujuan terlebih 

dahulu kepada responden, bahwa responden bersedia akan dilakukan penelitian. 

Setelah responden setuju dan menandatangani lembar persetujuan maka peneliti 

langsung membagikan kuesioner tersebut yang berisi daftar pertanyaan yang 

diajukan secara tertulis. Kuesioner terdiri dari dua bagian, bagian I adalah data 

demografi responden dan bagian II adalah pertanyaan pengetahuan tentang 

kontrasepsi oral. Dengan bentuk pertanyaan pengetahuan berupa pilihan ganda. 

 

D.



 

Populasi dan Sampel 

 

Populasi yang digunakan pada penelitian ini adalah akseptor KB yang 

menggunakan kontrasepsi oral di Kelurahan Baluwarti Kecamatan Pasar Kliwon 

Surakarta. Populasi dalam penelitian ini berjumlah 47 akseptor kontrasepsi oral. 

Setelah didapat ukuran populasi, kemudian sampel diambil dengan teknik 

sampling  purposive sampling yang  didasarkan pada suatu pertimbangan tertentu 

yang dibuat oleh peneliti sendiri, berdasarkan ciri atau sifat-sifat populasi yang 

sudah diketahui sebelumnya (Notoatmodjo, 2010). Populasi yang masuk dalam 

kriteria inklusi sebagai sampel sebanyak 30 akseptor KB oral. 

 

E.

 

Kriteria Sampel 

 

Kriteria inklusi yaitu kriteria atau ciri-ciri yang perlu dipenuhi oleh setiap 

anggota populasi yang dapat diambil sebagai sampel. Kriteria inklusi pada 

penelitian ini ialah dalam keadaan sehat, akseptor kontrasepsi oral yang 

menggunakan kontrasepsi ini minimal 6 bulan, bersedia menjadi responden dan 

bertempat tinggal di Kelurahan Baluwarti Kecamatan Pasar Kliwon Surakarta. 

Dan kriteria eksklusinya adalah akseptor KB kontrasepsi oral yang berprofesi 

sebagai tenaga kesehatan atau tenaga medis.  

 

F.

 

Jalannya Penelitian 

 

1.

 



Perjanjian Penelitian 

Tahap ini dimulai dengan pengajuan surat ijin penelitian dari Fakultas 

Farmasi UMS yang ditujukan kepada kepala Kelurahan Baluwarti Kecamatan 

Pasar Kliwon Surakarta dengan menyertakan Proposal, kemudian kepala 

Kelurahan setempat mengeluarkan surat izin penelitian. Surat ini ditujukan agar 

peneliti dapat melakukan penelitian di posyandu-posyandu yang ada di Kelurahan 

Baluwarti.  

2.

 



Penentuan Sampel 

Sebelum pengambilan data terlebih dahulu ditentukan populasi yang 

masuk dalam kriteria inklusi sebagai sampel, dari 47 populasi yang masuk dalam 



 

 

5



kriteria inklusi ada 30 sampel. Responden yang masuk kriteria inklusi adalah 

responden yang menggunakan kontrasepsi oral dan bertempat tinggal di Baluwarti 

Kecamatan Pasar Kliwon Surakarta. Selain itu responden menggunakan 

kontrasepsi oral lebih dari 6 bulan, tidak berprofesi sebagai tenaga kerja 

kesehatan, dan juga bersedia menjadi responden dengan mengisi lembar 

persetujuan menjadi responden.  

3.

 

Pengumpulan Data 



Pada penelitian ini pengumpulan data dilakukan dengan cara memberikan 

kuesioner kepada responden. Pengumpulan data dilakukan di posyandu-posyandu 

yang ada di Kelurahan Baluwarti. Ada 9 posyandu yang ada di Kelurahan ini 

tetapi peneliti hanya mengambil data di 3 posyandu saja, karena ketiga posyandu 

ini yang mempunyai populasi akseptor kontrsepsi oral. Kuesioner diberikan dan 

diambil kembali pada waktu yang bersamaan (saat itu juga). 



G.

 

Tempat Penelitian 

 

Lokasi penelitian yang digunakan untuk meneliti yaitu di Kelurahan 

Baluwarti Kecamatan Pasar Kliwon Surakarta. 

 

H.



 

Analisis Data 

 

Hasil penelitian dianalisis secara deskriptif. Dalam analisis deskriptif, data 

dari hasil penelitian yang merupakan jawaban responden terhadap pertanyaan di 

kuesioner dianalisis secara deskriptif (gambaran nyata) yang digunakan untuk 

mengetahui besarnya presentase keberadaannya di dalam populasi. 

Bagian I dari kuesioner adalah data pribadi responden terdiri dari : umur 

responden, pendidikan terakhir, pekerjaan, jumlah anak, penghasilan keluarga, 

jenis kontrasepsi pil yang digunakan. Pada bagian ini dilakukan analisis secara 

deskriptif. Bagian II : terdiri dari  pertanyaan mengenai data pengetahuan 

responden terkait kontrasepsi oral. Pada bagian II ini jawaban benar bernilai 1 dan 

salah 0. Untuk menghitung nilai yang diperoleh dengan rumus : 

 

 



 

 

 

Tabel. 1 Scoring Tingkat Pengetahuan : 

Nilai Tingkat 

Pengtahuan 

8,1-10 Sangat 

baik 

6,6-8,0 Baik 



 

5,6-6,5 Cukup 

 

4,0-5,5 Kurang 



 

< 4,0 

Sangat kurang 

        (Arikunto, 

2006) 


 

 

Setelah mengetahui karakteristik responden dan tingkat pengetahuan 



responden tentang kontrasepsi oral. Dilakukan uji korelasi untuk mengetahui 


 

 

6



hubungan antara karakteristik responden dan tingkat pengetahuan responden 

tentang kontrasepsi oral. Uji tersebut menggunakan uji Chi-Square

 

HASIL DAN PEMBAHASAN 

 

A.

 

Gambaran Lokasi Penelitian 

 

Penelitian ini dilaksanakan di Kelurahan Baluwarti, Kecamatan Pasar 

Kliwon, Surakarta. Jalannya penelitian dilaksanakan pada 3 Posyandu yang ada di 

Kelurahan Baluwarti yaitu Posyandu Drupadi, Setyowati dan Kumoratih. Pada 

penelitian pertama dilaksanakan di Posyandu Drupadi. Kegiatan Posyandu ini 

dibina dan diawasi oleh Puskesmas Kecamatan Pasar Kliwon melalui Bidan 

Pembina. Posyandu Drupadi ini mendapat bantuan dana dari Program Nasional 

Pemberdayaan Masyarakat Mandiri. Kegiatan Posyandu Drupadi dilaksanakan 

pada hari Selasa di minggu kedua setiap bulannya. 

Selain di Posyandu Drupadi, penelitian ini juga dilaksanakan di Posyandu 

Setyowati dan Kumoratih dengan hari yang berbeda menurut jadwal Posyandu 

tersebut. Kegiatan Posyandu Setyowati dilaksanakan pada hari Rabu di minggu 

kedua setiap bulannya. Sedangkan Posyandu Kumoratih pada hari Kamis di 

minggu kedua setiap bulannya. 

Kegiatan Posyandu dilaksanakan dirumah warga suka relawan yang 

bertempat tinggal di Baluwarti. Biasanya dilaksanakan pada pukul 09.00 WIB 

hingga menjelang adzan dhuhur. Kader yang bertugas berjumlah 9 orang di setiap 

Posyandu. Ketiga posyandu tersebut merupakan posyandu dengan cakupan 

wilayah yang paling luas dan mempunyai data akseptor kontrasepsi oral yang 

paling banyak dibandingkan dengan posyandu lainnya. Kegiatan rutin setiap 

bulannya berupa penimbangan bayi, imunisasi, pemberian vitamin, pemberian 

gizi, konsultasi KB, pemberian alat kontrasepsi gratis serta pemeriksaan ibu 

hamil. 

 

B.



 

Demografi Responden 

 

Responden yang digunakan sebagai sampel adalah akseptor kontrasepsi 



oral yang bertempat tinggal di Kelurahan Baluwarti Kecamatan Pasar Kliwon 

Surakarta dan menggunakan kontrasepsi oral minimal 6 bulan. Responden pada 

penelitian ini berjumlah 30 akseptor. Karakteristik responden mencakup sebagai  

berikut. 

Tabel 2 menunjukkan bahwa akseptor kontrasepsi oral di Kelurahan 

Baluwarti Surakarta mayoritas berusia antara 20 - 35 tahun  yaitu sebanyak 11 

orang atau 36,7%, kemudian 33,3% berusia kurang dari 20 tahun, dan 30% 

berusia lebih dari 35 tahun. Tingkat pendidikan akseptor kontrasepsi oral di 

Kelurahan Baluwarti Surakarta mayoritas berpendidikan SMP yaitu sebanyak 9 

orang atau 30%, kemudian 23,3% tidak bersekolah, 16,7% hanya lulusan sekolah 

dasar, 20% berpendidikan SMA, dan yang prosentase terendah adalah 

berpendidikan setingkat Sarjana yaitu 10%. Akseptor kontrasepsi oral di 




 

 

7



Kelurahan Baluwarti Surakarta mayoritas sebagai ibu rumah tangga yaitu 

sebanyak 15 orang atau 50%, kemudian 26,7% memiliki pekerjaan sebagai 

pedagang/wirausaha, dan 13,3% memiliki pekerjaan sebagai guru dan hanya 10% 

yang bekerja sebagai PNS. 



Tabel 2. Karakteristik Responden Akseptor Kontrasepsi Oral di Kelurahan 

Baluwarti Kecamatan Pasar Kliwon Surakarta  

Karakteristik Jumlah 

Prosentase 

(%) 


Umur 

 

 



≤ 20 tahun 

10 33,3 


20 – 35 tahun 

11 


36,7 

> 35 tahun 

30,0 


Pendidikan  

 

 



Tidak sekolah 

23,3 



Lulus SD 

16,7 



Lulus SMP 

30,0 



Lulus SMA/SMK 

20,0 



Lulus Perguruan Tinggi 

10,0 



Pekerjaan  

 

 



Ibu Rumah Tangga 

15 


50,0 

Berdagang/Wirausaha 8  26,7 

Guru 4 

13,3 


PNS 3 

10,0 


Jumlah Anak 

 

 



Tidak punya anak 

16,7 



1 anak 

14 


46,7 

2 anak 


13,3 


> 2 anak  

23,3 



Penghasilan Keluarga 

 

 



< Rp. 959.500,- 

14 


46,7 

> Rp. 959.500,- 

16 

53,3 


Jenis Pil KB 

 

 



Pil KB Kombinasi 

11 


36,7 

Pil KB Laktasi 

19 

63,3 


       Sumber data : Data Primer 

Dapat diketahui bahwa akseptor kontrasepsi oral di Kelurahan Baluwarti 

Surakarta mayoritas baru memiliki 1 anak yaitu sebanyak 14 orang atau 46,7%, 

kemudian 23,3% memiliki lebih dari 2 anak, 16,7% tidak punya anak dan hanya 

13,3% yang memiliki 2 anak. Akseptor kontrasepsi oral di Kelurahan Baluwarti 

Surakarta mayoritas berpenghasilan lebih dari UMR (Rp. 959.500,-) yaitu 

sebanyak 16 orang atau 53,3%, sedangkan 14 orang lainnya atau 46,7% memiliki 

penghasilan kurang dari Rp. 959.500,-. Dan dapat diketahui juga bahwa akseptor 

kontrasepsi oral di Kelurahan Baluwarti Surakarta mayoritas menggunakan pil 

KB Laktasi atau Minipil yaitu sebanyak 19 orang atau 63,3%, sedangkan 11 orang 

lainnya atau 36,7% menggunakan pil KB Kombinasi. 

 

 



 


 

 

8



C.

 

Tingkat Pengetahuan 

 

Tabel 3. Tingkat Pengetahuan Akseptor Kotrasepsi Oral tentang Kontrasepsi Oral di 

Kelurahan Baluwarti 

Tingkat pengetahuan 

Jumlah 

Prosentase (%) 



Sangat kurang 

6,7 



Kurang  

10 


33,3 

Cukup 4 


13,3 

Baik  


26,7 


Sangat Baik 

20,0 



  

  Sumber Data : Data Primer 

 

Tingkat pengetahuan akseptor KB oral di Kelurahan Baluwarti Surakarta 



tentang alat kontrasepsi oral mayoritas termasuk kategori kurang yaitu sebanyak 

10 orang atau 33,3%, kemudian termasuk kategori baik sebanyak 8 orang atau 

26,7%, kategori sangat baik sebanyak 20%, kategori cukup 13,3%, dan hanya 

6,7% yang termasuk sangat kurang.  

Dari hasil analisis menunjukkan bahwa tingkat pengetahuan akseptor KB 

oral di Kelurahan Baluwarti Surakarta termasuk kategori kurang. Sehingga, masih 

perlu ditingkatkan lagi. Kurangnya pengetahuan tentang alat kontrasepsi oral 

disebabkan oleh tingkat pendidikan responden yang mayoritas hanya sampai pada 

pendidikan SMP, sehingga pengetahuan dan wawasan mereka kurang luas. 

Tingkat pendidikan yang rendah mengindikasikan kurangnya pengetahuan dan 

pemahaman responden tentang kesehatan. Pengaruh tingkat pendidikan sebagai 

suatu sistem mempunyai pengaruh dalam pembentukan sikap dikarenakan 

keduanya meletakkan dasar pengetahuan dan konsep moral dari individu 

(Nursalam, 2001). Rendahnya pendidikan akseptor kontrasepsi oral di Kelurahan 

Baluwarti Kecamatan Pasar Kliwon Surakarta, menentukan dalam pola 

pengambilan keputusan dan penerimaan berbagai informasi tentang Keluarga 

Berencana dan kontrasepsi. Pada akseptor kontrasepsi oral dengan tingkat 

pendidikan rendah, keikutsertaannya dalam program KB hanya ditujukan untuk 

mengatur kelahiran. Sementara itu pada akseptor kontrasepsi oral dengan tingkat 

pendidikan yang tinggi, keikutsertaannya dalam program KB selain untuk 

mengatur kelahiran juga untuk meningkatkan kesejahteraan keluarga karena 

dengan cukup dua anak dalam satu keluarga akan terwujud keluarga kecil bahagia 

dan sejahtera, sehingga mereka lebih memikirkan efektifitas dari metode 

kontrasepsi yang digunakan. 

 

Latar belakang pendidikan yang rendah berimplikasi pada kualitas 



perilaku dan sikap seseorang. Pendidikan di dalam sekolah memberikan bekal 

pengetahuan kepada anak didik dan memberikan pandangan yang lebih kongkrit 

tentang wawasan keilmuan sekaligus sebagai saluran pewarisan nilai-nilai dan 

sikap masyarakat. Sehingga berperan penting dalam pembentukan sikap individu 

terhadap masalah tertentu (Sarwono, 1993). 

 

Pada penilaian kuesioner juga didapatkan presentase (%) jumlah jawaban 



responden per-item. Jumlah butir soal kuesioner tentang pengetahuan kontrasepsi 

oral sebanyak 13 soal yang berbentuk pilihan ganda. Tabel  menyatakan jumlah 

presentase jawaban benar responden per-item soal. 



 

 

9



 

Tabel 4. Presentasi Jawaban Benar Responden Akseptor Kontrasepsi Oral di 

Kelurahan Baluwarti Kecamatan Pasar Kliwon Surakarta 

No.  


Pertanyaan 

Jawaban 


Benar (%) 

1. Apa 


kepanjangan 

dari 


KB 

86,7 



2. 

Apa yang dimaksud dengan kontrasepsi ? 

66,7 

3. 


Apa yang dimaksud dengan pil KB ? 

60,0 


4. 

Kontrasepsi pil termasuk kontrasepsi ? 

63,3 

5.  



Kandungan apa yang ada di dalam kontrasepsi pil ? 

63,3 


6. 

Apa jenis pil yang anda ketahui ? 

66,7 

7. 


Bagaimana cara menggunakan kontrsepsi oral 

hormonal dengan baik ? 

66,7 

8. 


Kapan sebaiknya anda mulai minum pil KB? 

60,0 


9. 

Keuntungan apa yang anda ketahui dari pil KB ?  

           70,0 

10. 


Apa kekurangan dari pil KB ? 

46,7 


11. 

Efek samping yang muncul pada pengguna pil KB ? 

  66,7 

12. 


Jika anda terlambat meminum pil KB kurang dari 12 

jam, apa yang sebaiknya anda lakukan ? 

         63,3 

13 


Jika pada permulaan penggunaan pil, muncul kelainan 

seperti mual, muntah, sakit kepala, nyeri payudara 

serta pendarahan bercak maka sebaiknya anda 

menggunakan pil pada saat 

 60,0 

 

 



Penilaian berdasar presentase, dapat dibagi menjadi beberapa kategori, 

yaitu baik, cukup, kurang dan sangat kurang untuk memudahkan evaluasi pada 

tiap klasifikasi. Kategori pada kuesioner dikatakan baik apabila persentase dari 

rata-rata jawaban benar berkisar antara 76%-100%, cukup apabila berkisar antara 

56%-75%, kurang apabila berkisar antara 40%-55% dan sangat kurang apabila 

rata-rata per-klasifikasinya bernilai <40%. Pada tabel 4 diketahui presentasi 

jawaban benar pada nomor 1 sebesar 86,7%, ini dikatakan bahwa 26 responden 

dari 30 responden menjawab benar dan mempunyai tingkat pengetahuan yang 

baik. Sedangkan pada pertanyaan nomor 2-9 dan 11-13 responden mempunyai 

tingkat pengetahuan yang cukup dikarenakan hasil presentasi jawaban benar 

masuk dalam klasifikasi 56% - 75%. Sedangkan pada pertanyaan nomor 10 yakni 

kekurangan apa yang terdapat pada pil KB, presentasi jawaban benar hanya 46,7% 

ini dikatakan bahwa tingkat pengetahuan responden pada pertanyaan tersebut 

dikatakan kurang 

 

D.

 

Hubungan Karakteristik (Umur, Tingkat Pendidikan, Pekerjaan, 

Jumlah Anak, Penghasilan, dan Jenis Kontrasepsi) dengan Tingkat 

Pengetahuan Responden 

 

Karakteristik responden berdasarkan penelitian dibagi menjadi 6 variabel, 

yaitu umur, tingkat pendidikan, pekerjaan, jumlah anak, penghasilan, dan jenis 

kontrasepsi. Persentase dari setiap variabel dihitung berdasarkan jumlah 

responden yang dimasukkan ke dalam ketegori tingkat pengetahuan (sangat baik, 

baik, cukup, kurang, dan sangat kurang) dibagi dengan jumlah total responden 




 

 

10



tiap variabelnya. Korelasi karakteristik responden dengan tingkat pengetahuan 

disajikan pada tabel berikut ini. 

 

Tabel 5. 

Korelasi Karakteristik Responden Akseptor Kontrasepsi Oral dengan Tingkat 

Pengetahuan tentang Kontrasepsi Oral di Kelurahan Baluwarti Pasar Kliwon Surakarta

 

Tingkat pengetahuan (%) 



Kategori Responden  Sangat 

Kurang 


Kurang Cukup  Baik 

Sangat 


Baik 

Hasil    

Chi-Square 

 

Usia 

 

 

 



 

 

 



    < 20 tahun 

20,0 


60,0 

10,0 


10,0 

  - 


χ

2

 



= 26,039 

    20-35 tahun 

36,4 


18,2 

45,5 


  - 

p  = 0,001 

       > 35 tahun 



11,1 

22,2 


  66,7 

(p<0,05) 



Tingkat Pendidikan   

 

 



 

 

 



    Tidak sekolah 

28,6 


57,1 

14,3 


  - 


χ

2

 



= 40,275 

    SD 


60,0 


40,0 

  - 



p  = 0,001 

    SMP 


33,3 


11,1 

55,6 


  - 

(p<0,05) 

    SMA 



50,0 


  50,0 

 

    S1 





  100,0 


 

Pekerjaan               

 

 



 

 

 



 

     Ibu rumah tangga  6,7 

46,7 

20,0 


20,0 

  6,7 


χ

2

 



= 24,956 

     Berdagang 

12,5 

37,5 


12,5 

37,5 


  - 

p  = 0,015 

     Guru 



  100,0 



(p<0,05) 

     PNS 





66,7 

  33,3 


 

Jumlah anak 

 

 



 

 

 



 

    Tidak punya 

40,0 


40,0 

20,0 


  - 

χ

2



 

= 27,498 

    1 anak 

7,1 



7,1 

42,9 


  42,9 

p  = 0,007 

    2 anak 

50,0 



25,0 

25,0 


  - 

(p<0,05) 

    > 2 anak 

28,6 


71,4 



  - 

 

Penghasilan  

 

 

 



 

χ

2



 

= 17,042 

    < Rp. 959.500 

14,3 


57,1 

21,4 


7,1 

  - 


p  = 0,002 

    > Rp. 959.500 

12,5 


6,3 

43,8 


  37,5 

   (p<0,05) 



Jenis kontrasepsi 

 

 



 

 

χ



2

 

= 14,821 



    Pil kombinasi 

9,1 



9,1 

27,3 


  54,5 

p  = 0,005 

    Pil Laktasi 

10,5 


47,4 

15,8 


26,3 

  - 


    (p<0,05) 

Sumber Data : Data Primer  

Hasil analisis hubungan antara umur dengan dengan tingkat pengetahuan 

tentang alat kontrasepsi oral, umur lebih dari 35 tahun mempunyai tingkat 

pengetahuan yang sangat baik, hal ini dimungkinkan karena faktor usia tersebut 

adalah masa dimana seseorang menempuh pendidikan dan mempunyai 

kecenderungan menerima banyak sumber informasi, sehingga mampu 

menggunakan materi tersebut pada kondisi atau situasi sebenarnya. Menurut 

Mubarak (2007), semakin bertambahnya usia seseorang, akan terjadi perubahan 

pada aspek fisik dan psikologi (mental). Pada aspek tersebut, taraf berfikir 

seseorang semakin matang dan dewasa. Selain itu menurut Notoatmodjo (2003), 

usia juga berhubungan dengan pengalaman seseorang sehingga dengan usia yang 

semakin bertambah, maka pengalaman seseorang juga semakin luas, sehingga 

pengetahuan yang diperolehnya semakin tinggi. Hasil analisis hubungan antara 




 

 

11



umur dengan tingkat pengetahuan menggunakan uji Chi-Square  didapatkan nilai 

significance 0,001 (<0,05) yang menunjukkan bahwa hubungan umur dengan 

tingkat pengetahuan adalah bermakna, sehingga dapat disimpulkan bahwa 

terdapat hubungan yang signifikan antara umur dengan tingkat pengetahuan 

tentang alat kontrasepsi oral. 

Dari hasil korelasi antara pendidikan terakhir dengan tingkat pengetahuan 

tentang alat kontrasepsi oral menggambarkan bahwa tingkat pendidikan perguruan 

tinggi (S1) mempunyai tingkat pengetahuan yang sangat baik. Hal ini 

menunjukkan bahwa tingginya pendidikan seseorang, akan mempengaruhi tingkat 

pengetahuan yang mereka dapatkan. Seseorang yang pendidikan terakhirnya S1 

idealnya mempunyai pengetahuan yang lebih baik dibandingkan dengan orang 

yang pendidikan terakhirnya SD, SMP, ataupun SMA karena pendidikan formal 

juga mempengaruhi pengetahuan yang dimiliki seseorang. Pada umumnya 

semakin tinggi pendidikan seseorang, semakin mudah menerima informasi 

(Mubarak, 2007). Hasil analisis hubungan antara tingkat pendidikan dengan 

tingkat pengetahuan menggunakan uji Chi-Square  didapatkan nilai significance 

0,001 (<0,05) yang menunjukkan hubungan antara tingkat pendidikan dengan 

tingkat pengetahuan adalah bermakna, sehingga dapat disimpulkan bahwa 

terdapat hubungan yang signifikan antara tingkat pendidikan dengan tingkat 

pengetahuan. 

Data dari hasil korelasi antara pekerjaan dengan tingkat pengetahuan 

tentang alat kontrasepsi oral menunjukkan bahwa guru mempunyai tingkat 

pengetahuan yang sangat baik dibandingkan dengan kategori pekerjaan yang lain. 

Sesuai dengan tabel 5, seseorang yang berprofesi sebagai guru dan PNS 

mempunyai tingkat pengetahuan yang tinggi dibandingkan dengan orang yang 

berprofesi sebagai wirausaha atau ibu rumah tangga. Guru merupakan mediator 

pendidikan di sekolah yang memberikan bimbingan belajar untuk meningkatkan 

kemampuan belajar pada muridnya, sehingga selain memahami materi juga 

mengaplikasikan materi terebut. Memahami merupakan kemampuan menjelaskan 

secara benar tentang objek yang diketahui dan mengintepretasikannya, 

sedangakan aplikasi merupakan kemampuan untuk menggunakan suatu materi 

yang telah dipelajari (Notoatmodjo, 2003). Hasil analisis dari hubungan antara 

pekerjaan dengan tingkat pengetahuan tentang alat kontrasepsi oral menggunakan 

uji  Chi-Square  didapatkan nilai significance 0,015 (<0,05) yang menunujukkan 

hubungan antara pekerjaan dengan tingkat pengetahuan tentang alat kontrasepsi 

oral adalah bermakna, yang berarti terdapat hubungan yang signifikan antara 

pekerjaan dengan tingkat pengetahuan tentang alat kontrasepsi oral. 

Korelasi atau hubungan antara  jumlah anak dengan tingkat pengetahuan 

tentang alat kontrasepsi oral menunjukkan bahwa ibu yang mempunyai 1 anak 

mempunyai tingkat pengetahuan yang lebih baik dibandingkan dengan jumlah 

anak lebih dari 2 anak. Ibu yang baru mempunyai 1 anak menunjukkan 

keberhasilan program KB yang dilakukannya. Ibu yang mempunyai 1 anak 

memiliki pengetahuan yang baik dalam merencanakan program KB. Mereka telah 

mempertimbangkan berbagai alat kontrasepsi sebelum menggunakannya. Alat 



 

 

12



kontrasepsi oral adalah salah satu hal yang dipertimbangkan sebelum memutuskan 

menggunakannya. Hasil analisis dari hubungan antara jumlah anak dengan tingkat 

pengetahuan tentang alat kontrasepsi oral menggunakan uji Chi-Square 

didapatkan nilai significance 0,007 (<0,05) yang menunujukkan hubungan antara 

jumlah anak dengan tingkat pengetahuan tentang alat kontrasepsi oral adalah 

bermakna, yang berarti terdapat hubungan yang signifikan antara jumlah anak 

dengan tingkat pengetahuan tentang alat kontrasepsi oral.  

Hubungan antara penghasilan dengan tingkat pengetahuan tentang alat 

kontrasepsi oral menunjukkan bahwa penghasilan yang lebih tinggi (> 

Rp.959.5000) mempunyai tingkat pengetahuan yang baik dibandingkan dengan 

penghasilan yang rendah. Menurut Notoatmodjo

 

(2003), jika seseorang 



mempunyai penghasilan yang cukup besar, maka dia akan mampu untuk 

menyediakan atau membeli fasilitas-fasilitas sumber informasi. Pada kategori 

pekerjaan, guru dan pegawai memiliki penghasilan yang cukup, sehingga 

mempunyai kemungkinan yang paling besar untuk mendapatkan sumber 

informasi. Hasil analisis dari hubungan antara penghasilan dengan tingkat 

pengetahuan tentang alat kontrasepsi oral menggunakan uji Chi-Square 

didapatkan nilai significance 0,002 (<0,05) yang menunujukkan hubungan antara 

penghasilan dengan tingkat pengetahuan tentang alat kontrasepsi oral adalah 

bermakna, yang berarti terdapat hubungan yang signifikan antara penghasilan 

dengan tingkat pengetahuan tentang alat kontrasepsi oral.  

Sedangkan pada hasil korelasi antara jenis kontrasepsi oral dengan tingkat 

pengetahuan tentang alat kontrasepsi oral menunjukkan bahwa ibu yang 

menggunakan pil kombinasi mempunyai tingkat pengetahuan yang lebih baik 

dibandingkan dengan ibu yang menggunakan pil laktasi. Ibu yang menggunakan 

pil kombinasi telah mempertimbangkan berbagai alternatif alat kontrasepsi 

sebelum menggunakannya. Kelebihan pil kombinasi, antara lain: efektifitasnya 

tinggi, frekuensi koitus tidak perlu diatur, siklus haid menjadi teratur, dan 

keluhan-keluhan disminore yang primer menjadi berkurang atau hilang sama 

sekali. Sedangkan, kekurangan dari pil kombinasi antara lain: pil harus diminum 

setiap hari, motivasi harus kuat, dan adanya efek samping walaupun sifatnya 

sementara, misalkan mual, sakit kepala, muntah, buah dada nyeri, dan lain-lain

Walaupun banyaknya efek samping yang ditimbulkan oleh kontrasepsi pil, 

ternyata masih banyak akseptor KB yang memilih kontrasepsi pil. Kegagalan 

kontrasepsi pil ini biasanya akibat dari ketidaksiplinan akseptor. Solusi dari 

kegagalan adalah informasi yang efektif hal ini sebagai satu cara untuk 

memperbaiki kepatuhan akseptor, informasi tersebut antara lain: dijelaskan 

bagaimana kontrasepsi oral bekerja, diperlihatkan, dan ditunjukkan kepada pasien 

kemasan pil yang akan digunakan, dan diberitahu bagaimana cara mengkonsumsi 

pil, jelaskan efek samping yang mungkin terjadi, meminta pasien mengulangi 

informasi yang penting, untuk menyakinkan bahwa ia mengerti apa yang telah 

dibicarakan (Prawirohardjo, 2003). Hasil analisis dari hubungan antara jenis 

kontrasepsi oral dengan tingkat pengetahuan tentang alat kontrasepsi oral 

menggunakan uji Chi-Square  didapatkan nilai significance 0,005 (<0,05) yang 

menunjukkan hubungan antara jenis kontrasepsi oral dengan tingkat pengetahuan 




 

 

13



tentang alat kontrasepsi oral adalah bermakna, yang berarti terdapat hubungan 

yang signifikan antara jenis kontrasepsi oral dengan tingkat pengetahuan tentang 

alat kontrasepsi oral. 

PENUTUP 

A.

 

Kesimpulan 

 

Berdasarkan hasil analisis yang telah diuraikan, maka dapat diambil 



kesimpulan sebagai berikut: 

  

1.



 

Tingkat pengetahuan akseptor kontrasepsi oral di Kelurahan Baluwarti 

Surakarta tentang alat kontrasepsi oral mayoritas termasuk kategori kurang 

yaitu sebanyak 33,3%, kemudian termasuk kategori baik 26,7%, kategori 

sangat baik 20%, kategori cukup 13,3%, dan hanya 6,7% yang termasuk sangat 

kurang. 


2.

 

Terdapat hubungan yang signifikan antara karakteristik responden (umur, 



tingkat pendidikan, pekerjaan, jumlah anak, penghasilan, jenis kontrasepsi) 

dengan tingkat pengetahuan tentang alat kontrasepsi oral di Kelurahan 

Baluwarti Kecamatan Pasar Kliwon Surakarta. Hal ini dikatakan signifikan 

karena hasil p<0,05. 

 

B.

 

Saran 

 

 

 



Dari beberapa kesimpulan di atas, maka disampaikan beberapa saran 

sebagai berikut:  

1.

 

Bagi akseptor kontrasepsi oral diharapkan selalu berusaha meningkatkan 



pengetahuannya mengenai alat kontrasepsi oral dan mencari informasi 

mengenai alat kontrasepsi oral. 

2.

 

Bagi kader dan petugas kesehatan, perlu memberikan informasi atau konseling 



kepada akseptor kontrasepsi oral tentang pengetahuan alat kontrasepsi oral. 

3.

 



Bagi penelitian berikutnya, peneliti juga dapat mencari korelasi atau hubungan 

tingkat pengetahuan dengan kepatuhan akseptor dan juga tingkat pengetahuan 

dengan keberhasilan akseptor dalam mengatur jarak kehamilan.  

 

DAFTAR ACUAN 



 

Arikunto, S., 2006, Prosedur Penelitian Suatu Pendekatan Praktek, Jakarta : 

Rineka Cipta. 

 

BKKBN, 2011, Perkembangan Pencapaian Peserta KB baru Menurut Alat 



Kontrasepsi, (diakses tanggal 27 Oktober 2012). 


 

 

14



Derek & Jones, Lewellyn., 2002, Dasar-Dasar Obstetri dan Ginekologi, Edisi 6

Jakarta : Hipokrates. 

 

Halpern & Grimes, 2007, Strategies to Improve Adherence and Acceptability of 



Hormonal Methods for Contraception, Cochrane Database of Systematic 

Reviews. 

 

Wiknjosastro, H., 2005. Ilmu Kebidanan, Edisi 3, Jakarta : Yayasan Bina Pustaka 



Sarwono Prawihadjo. 

 

Manuba, I. B., 2001, Kapita Selekta Penatalaksanaan Rutin Obstetri Ginekologi 



dan KB, Jakarta : EGC. 

 

Mubarak, W.I., 2007, Promosi Kesehatan, Jogjakarta : Graha ilmu 



 

 

 



Notoadmojo, S., 2003, Pendidikan dan Perilaku Kesehatan, Jakarta:  Rineka                

Cipta. 


 

Notoadmojo, S., 2010, Metodelogi Penelitian Kesehatan, Edisi Rev, Jakarta  :              

Rineka Cipta. 

 

Nursalam, 2001., Pendekatan Praktis Metodologi Riset Keperawatan.  Jakarta  :        



Info Medika. 

 

Prawirohardjo, 2005., Ilmu Kebidanan, Yogyakarta : Yayasan Bina Pustaka 



 

Saifuddin, A. B., Affandy, B., Baharuddin, M. & Soekir, S., 2006,  Buku Panduan 



Praktis Pelayanan Kontrasepsi,  Edisi Kedua, Jakarta : Yayasan Bina 

Pustaka Sarwono Prawiharjo. 

 

Sarwono, S., 1993, Sosiologi Kesehatan beserta Aplikasinya, Yogyakarta : Gajah 



Mada University Press. 

 

 



Yüklə 144,94 Kb.

Dostları ilə paylaş:




Verilənlər bazası müəlliflik hüququ ilə müdafiə olunur ©genderi.org 2022
rəhbərliyinə müraciət

    Ana səhifə