Bab III metode penelitian pola / Jenis Penelitian



Yüklə 43,64 Kb.
tarix07.11.2018
ölçüsü43,64 Kb.


68
BAB III
METODE PENELITIAN



  1. Pola / Jenis Penelitian

Sesuai dengan sifat dan karakter permasalahan yang diangkat dalam penelitian ini, maka penelitian yang akan digunakan adalah menggunakan pendekatan kualitatif, dengan memakai perspektif fenomenologi, yaitu peneliti memahami dan menghayati kepemimpinan kepala madrasah dalam meningkatkan profesionalisme guru. Karena kepemimpinan madrasah merupakan beberapa tindakan yang dilakukan kepala madrasah untuk meningkatkan profesionalisme guru melalui proses pengambilan keputuwsan memerlukan kajian mendalam untuk menghasilkan kesimpulan yang akurat. Penelitian kualitatif dengan pendekatan fenomenologi menurut Muhadjir setidak-tidaknya mengakui empat kebenaran, yaitu : kebenaran empirik sensual, empirik logik atau teoritik, empirik etik dan kebenaran empirik transendental. Kemampuan penghayatan dan pemaknaan manusia atas indikasi empirik manusia menjadi mampu mengenal ke-empat kebenaran tersebut. 1

Epistimologi, fenomenologi sebagaimana pendekatan rasionalisme menyatakan bahwa ilmu yang valid merupakan abstraksi, simplikasi atau idealisasi dan realitas yang terbukti koheren dengan logika. Bagi fenomenologi, semua ilmu itu berasal dari pemahaman intelektual terhadap fenomena yang dibangun atas pengalaman empirik. Dukungan data empirik yang relevan dibuatkan dalam rangka menghasilkan produk ilmu yang benar-benar ilmu bukan sekedar fiksi. Dengan pendekatan fenomenologi ini, peneliti berupaya memahami kebenaran empirik sensual, empirik logik atau teoritik, empirik etik dan kebenaran empirik transendental dari sistem dan proses yang terjadi di madrasah dalam rangka menemukan bentuk kepemimpinan serta akibatnya yang muncul di permukaan dan yang masih tersembunyi yang berpengaruh terhadap profesionalisme guru .

Data-data empirik yang telah diperoleh melalui beberapa teknik pengumpulan data yang dipilih sesuai dengan fokus penelitian, akan dipahami sebagai intelektual dan diberi pemaknaan berdasarkan bangunan konstruksi teoritik tertentu untuk menawarkan sejumlah klaster tata pikir logik untuk memahami dan memberikan pemaknaan sejumlah data penelitian jenis dan pendekatan ini. 2

Penelitian kualitatitf sebagai metode ilmiah sering digunakan oleh sekelompok peneliti dalam bidang sosial, seperti : sosiologi, anthropologi dan sejumlah penelitian perilaku lainnya, termasuk ilmu pendidikan. diantara ciri-ciri penelitian kualitatitf menurut Arifin adalah:3



  1. Penelitian kualitatif menggunakan latar alami atau lingkungan alamiah sebagai sumber data langsung.

  2. Penelitian kualitatif sifatnya diskriptif analitik, seperti : hasil pengamatan, hasil pemotretan, cuplikan tertulis, dokumen dan catatan lapangan.

  3. Tekanan penelitian kualitatif ada pada proses, bukan pada hasil.

  4. Penelitian kualitatif bersifat induktif serta analisa data induktif, dimulai dari lapangan, yakni fakta empiris atau induktif.

  5. Penelitian kualitatif mengutamakan makna atau interpretasi, mengutamakan kepada bagaimana orang mengartikan hidup.

Untuk memahami dan memberikan pemaknaan secara mendalam terhadap data empirik yang terkait dengan masing-masing pikiran sebagaimana tertuang diatas, dipilih beberapa tata pikir logik yang dipandang sesuai dengan karakter permaslahan yang akan dipahami dan diberi pemaknaan.

Untuk tujuan pertama digunakan pola pikir instrumental, yakni dengan melihat bagaimana peran kepemimpinan kepala sekolah dalam meningkatkan profesionalisme guru. Tujuan penelitian kedua akan digunakan pola pikir struktural, yaitu untuk mengetahui mengapa dengan kepemimpinan kepala madrasah terjadi peningkatan profesionalisme guru.4

Ditinjau dari jenisnya, penelitian tentang kepemimpinan kepada sekolah dalam meningkakan profesionalisme guru ini adalah study kasus, yang menurut Bogdan dan Biklen merupakan pengujian secara rinci terhadap satu latar atau suatu tempat penyimpanan dokumen atau suatu peristiwa tertentu. Dimana dalam laporan penelitian ini penulis menggunakan uraian dan penjelasan secara utuh mengenai berbagai aspek sekolah mulai kepala sekolah, guru, siswa komunitas yang melengkapi sekolah, program kerja, dan situasi sosial sekolah. Tujuan dari studi kasus adalah untuk mengembangkan pengetahuan yang mendalam mengenai obyek yang bersangkutan yang berarti bahwa studi kasus harus disifatkan sebagai penelitian yang eksploratif dan deskriftif.5


  1. Lokasi Penelitian

Dalam penelitian ini yang menjadi lokasi penelitian adalah Madrasah Tsanawiyah Pagotan Jombang yang terletak di Desa Keplaksari Kec. Peterongan Kab. Jombang. Sekolah ini memiliki letak yang strategis karena tidak terlalu jauh dari kota Jombang. Tempatnya mudah dijangkau dari segala penjuru, baik dengan sepeda, sepeda motor maupun angkutan umum.

Selain itu MTs Al-Hidayah Pagotan Jombang dipilih sebagai lokasi penelitian berdasarkan atas beberapa pertimbangan, diantaranya :



  1. Sekolah ini walaupun masih tergolong muda, kematangan dalam peningkatan profesionalisme guru terlihat jelas.

  2. Dari dokumen Sekolah, profesionalisme guru mengalami peningkatan yang cukup signifikan, hal ini dibuktikan dengan keberhasilan guru dalam meningkatkan prestasi siswa baik prestasi akademik maupun non akademik.

  3. Guru-guru banyak diikutkan dalam program peningkatan profesionalisme guru, diantaranya adalah mengikutsertakan seminar, pelatihan, work shop, penataran, lokakarya dan diklat. Serta adanya peningkatan guru yang melanjutkan pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi (S2).




  1. Kehadiran Penelitian

Instrumen utama penelitian ini adalah peneliti sendiri. Menggunakan peneliti sebagai instrumen mempunyai keuntungan dan kekurangan. Adapun keuntungan peneliti sebagai instrumen adalah subyek lebih tanggap dengan maksud kedatangannya, peneliti dapat menyesuaikan diri terhadap setting penelitian. Sehingga peneliti dapat menjelajah ke seluruh bagian setting peneliti untuk mengumpulkan data, keputusan dapat secara cepat, terarah, gaya dan topik pembicaraan dapat berubah-ubah dan jika perlu pengumpulan data dapat ditunda. Keuntungan lain yang didapat dengan menggunakan peneliti sebagai instrumen adalah informasi dapat diperoleh melalui sikap dan cara responden memberikan informasi. Dengan demikian peneliti merupakan instrumen kunci guna menangkap makna, interaksi nilai dan nilai lokal yang berbeda dimana hal ini tidak memungkinkan diungkap lewat kuisioner.6

Sedangkan kelemahan peneliti sebagai instrumen adalah menginter-prestasikan data dan fakta, peneliti dipengaruhi oleh persepsi atau kesan yang dimiliknya sebelum data dan fakta itu ditemukan. Demikian pula dalam memberikan informasi, responden sangat dipengaruhi oleh persepsi dan kesan terhadap penelitian. Kelemahan ini dapat ditutupi dengn kesadaran yang tinggi terhadap munculnya kemungkinan subyektivitas, baik dari peneliti maupun responden.7

Peneliti harus berusaha dapat menghindari pengaruh subyektivitas dan menjaga lingkungan secara alamiah agar proses yang terjadi berjalan sebagaimana biasanya. Disinilah pentingnya peneliti kualitatif menahan dirinya untuk tidak terlalu jauh intervensinya terhadap lingkungan yang menjadi obyek penelitiannya.

Dalam penelitian ini, penulis tidak menentukan waktu lamanya mau-pun harinya, akan tetapi penulis secara terus menerus menggali data dalam waktu yang tepat dan sesuai kesempatan dengan data informan. Sisi lain, yang penulis tekankan adalah keterlibatan langsung peneliti di lapangan dengan informan dan sumber data. Disamping itu karena penelitian kualitatif yang menjadi kepeduliannya adalah fenomena sosial dan budaya, menyangkut manusia dan tingkah lakunya sebagai makhluk psikis, sosial budaya, maka dalam hal ini peneliti tidak saja studying people, tetapi learning from people. Disamping meneliti manusia juga belajar dari manusia serta mempunyai orientasi dan mendasarkan diri pada perluasan pengetahuan. Menurut konsepnya keadaan yang demikian merupakan penciptaan rapport, artinya terjadinya hubungan harmonis yang mendalam antara pene-liti dengan informan/pihak yang diteliti sehingga terjadi arus bebas dan keterusterangan dala komunikasi informasi yang berlangsung, tanpa kecuriga-an dan tanpa upaya saling menutup diri.

Sebab satu dengan yang lain tidak saling kenal. Hal ini jelas akan dialami bahwa proses kehadiran peneliti terasa asing di MTs Al-Hidayah Pagotan Jombang. Oleh karena itu, proses penjajakan dan menuju terjalinnya hubungan dengan pihak yang diteliti senantiasa penulis ciptakan di lapangan sehingga informan merasa sebagai guru peneliti atau nara sumber. Kesempatan ini penulis terus gunakan agar informan tidak lagi hanya merespons pertanyaan-pertanyaan yang diajukan peneliti, tetapi juga bersama-sama peneliti mengidentifikasi hal-hal yang diperlukan peneliti.


  1. Sumber Data

Dalam penelitian ini, subyek penelitian menitikberatkan pada sumber data manusia, yaitu orang-orang yang dapat memberikan informasi kepemimpinan sebagai obyek penelitian secara akuran. Subyek penelitian terdiri dari Kepala MTs Al-Hidayah Pagotan Jombang, Kepala Tata Usaha dan beberapa guru bidang study, baik Guru Tetap Yayasan (GTY) maupun Guru Tidak Tetap (GTT).

Penentuan subyek penelitian ini dilakukan dengan menggunakan purposive sampling, yaitu pemilihan sampel dengan pertimbangan antara lain:8



  1. Subyek penelitian terlibat langsung dalam proses pengelolaan dan proses belajar mengajar di sekolah.

  2. Keterlibatan mereka dalam pengelolaan dan proses belajar mengajar di MTs Al-Hidayah Pagotan Jombang telah berlangsung paling tidak sudah 3 (tiga) tahun lamanya dan masih aktif hingga saat penelitian ini dilakukan.

Tujuan penggunaan purposive sampling ini adalah :

  1. Untuk mendapatkan informasi dari setiap percabangan dan konstruksi perilaku kepala sekolah dalam meningkatkan profesionalisme guru di MTs Al-Hidayah Pagotan Jombang.

  2. Merinci berbagai seluk beluk yang ada dalam temuan konteks yang unik.

  3. Untuk informasi yang menjadi dasar dalam penelitian.

Selanjutnya untuk memilih dan menentukan informan dalam penelitian ini digunakan snowball sampling, yaitu diibaratkan sebagai bola salju yang menggelinding, semakin lama semakin besar. Proses ini baru berhenti setelah informasi yang diperoleh antara sesama informan mempunyai kesamaan, sehingga tidak ada data yang dianggap baru. Informan kunci dalam penelitian ini adalah satu orang, yaitu kepala madrasah yang mempunyai perilaku kepemimpinan langsung terhadap lembaga yang dipimpinnya. Sedangkan untuk informan bantu, peneliti mengambil 6 (enam) orang guru untuk melengkapi data penelitian.9


  1. Prosedur Pengumpulan Data

Sesuai dengan jenis penelitian diatas, yaitu jenis penelitian kualitatif, maka cara pengumpulan data dilakukan dengan 3 (tiga) teknik, yaitu ; wawancara, observasi dan dokumentasi.

Instrumen utama pengumpulan data dalam penelitian ini adalah peneliti sendiri dengan alat bantu tape recorder, alat kamera, pedoman wawancara dan alat-alat lain yang diperlukan secara insidental. Untuk lebih jelasnya, penjelasan teknik pengumpulan data yang penulis gunakan adalah sebagai berikut :10



  1. Wawancara

Dalam penelitian kualitatif, biasanya gunakan teknik wawancara sebagai cara untuk mengumpulkan data / informasi. Ada 2 (dua) alasan peneliti menggunakan teknik wawancara, yaitu ; pertama , dengan wa-wancara peneliti dapat menggali tidak saja apa yang diketahui dan di alami seseorang / subyek yang diteliti, tetapi juga apa yang tersembunyi jauh di dalam diri subyek penelitian. Kedua, apa yang ditanyakan pada informan bisa mencakup hal-hal yang bersifat lintas waktu yang berkaitan dengan masa lampau, masa sekarang dan juga masa yang akan datang.

Teknik wawancara ini digunakan untuk mengetahui secara men-dalam, mendetail atau insentif adalah upaya menemukan pengalaman –pengalaman informan atau responden dari topik tertentu atau situasi spesifik yang dikaji. Oleh karena itu, dalam melaksanakan wawancara untuk mencari data, dgunakan pertanyaan-pertanyaan yang memerlukan jawaban berupa informasi.

Wawancara dilakukan secara terbuka untuk menggali pandangan subyek penelitian (kepala sekolah, kepala tata usaha dan para guru) tentang masalah yang akan diteliti. Wawancara dilakukan pada waktu dan konteks yang tepat untuk mendapatkan data yang akurat dan dilakukan berkali-kali sesuai dengan keperluan. Dalam mengadakan wawancara peneliti dilengkapi dengan alat perekam suara dan buku catatan kecil.

Langkah-langkah wawancara yang akan digunakan oleh peneliti yaitu:11



    1. Menetapkan kepada siapa wawancara itu akan dilakukan dengan tujuan menentukan individu yang berkompeten dalam persoalan yang diangkat.

    2. Mengadakan persiapan wawancara dengan menetapkan waktu dan tempat yang memadai agar wawancara dapat dilaksanakan dengan maksimal.

    3. Menyiapkan pokok-pokok masalah yang akan menjadi bahan pembicaraan, seperti ikhtisar penelitian secara umum dan informasi dasar atau latar belakang orang yang diajak wawancara.

    4. Melaksanakan wawancara dengan cara mengawali dan membuka alur wawancara sebagai orang yang netral dengan tidak masuk pada suatu konflik pendapat.

    5. Melangsungkan dan mengatur alur wawancara sesuai dengan masalah yang akan diteliti.

    6. Mengkonfirmasikan ikhtisar hasil wawancara dengan menekankan informasi-informasi penting atau bagian-bagian komentar penting dan mengakhirinya.

    7. Menuliskan hasil wawancara ke dalam catatan lapangan dalam rangka pengecekan keabsahan data.

    8. Mengindentifikasi tindak lanjut hasil wawancara yang telah diperoleh dengan cara mengorganisasi dan mensistematiskan data untuk dianalisa.

  1. Observasi

Observasi dalam penelitian ini dilaksanakan dengan 2 (dua) teknik agar pengamat dalam hal ini peneliti mempunyai dua peranan sekaligus yaitu sebagai pengamat dan sekaligus menjadi anggota resmi dari kelompok yang diamati. Untuk mendukung keduanya maka peneliti melakukan observasi atau pengamatan yang didasarkan atas pengalaman secara langsung dan observasi atau pengamatan murni dimana memungkinkan peneliti melihat dan mengamati sendiri secara independen. Observasi ini peneliti pergunakan untuk mengamati aktivitas kepala sekolah, guru dan kegiatan madrasah. 12

Observasi terlibat atau partisipasi adalah observasi yang dilaksanakan dengan cara peneliti melibatkan diri atau berinteraksi pada kegiatan yang dilakukan oleh subyek dalam lingkungannya, mengumpulkan data secara sistematik dalam bentuk catatan lapangan. Teknik pengumpulan data dengan derajat keterlibatan peneliti secara langsung kan tetapi tetap mempertahankan adanya keseimbangan antara sebagai orang dalam (insider) dan orang luar (outsider) seperti ini disebut dengan partisipasi moderat (moderate participation). 13

Dalam peran observasi ini, peneliti sering terlibat dalam kegiatan-kegiatan madrasah yang relevan dengan fokus penelitian dan dalam hal ini memperhatikan saran dan masukan. Selama penelitian, peneliti mengamati langsung aktivitas kepala madrasah pada saat berinteraksi dengan para guru dan pada saat kepala madrasah melakukan aktivitas di sekolah. Selain itu peneliti juga mengadakan observasi langsung pada saat guru melakukan proses belajar mengajar.


  1. Dokumentasi

Untuk menghemat dan menghindari kehilangan data yang telah di kumpulkan dalam waktu relatif lama yang disebabkan kesalahan teknik, maka dilakukan pencatatan-pencatatan secara lengkap dan secepat mungkin dalam setiap selesai pengumpulan data di lapangan. Pengum-pulan data jenis kualitatif ini biasanya memakan waktu panjang, di lakukan dalam waktu panjang, dilakukan secara simultan dalam masa yang sama antara aktivitas merumuskan hipotesis dan menganalisa data lapangan. Pada tahapan analisa hepotesa selanjutnya maka harus didukung dengan sumber-sumber data sebelumnya seperti catatan data lapangan dan kepustakaan yang terkait dengan masalah penelitian.

Disamping itu, data dokumentasi diperlukan untuk melengkapi data yang diperoleh dri wawancara dan observasi. Dokumen yang di maksud bisa berupa foro-foto dokumen madrasah, arsip madrasah, transkrip wawancara dan dokumen tentang sejarah madrasah dan perkembangannya. Kesemua dokumentasi ini akan dikumpulkan untuk dianalisa demi kelengkapan data penelitian.

Pengumpulan data peneliti lakukan secara terus menerus dan ber-akhir pada saat peneliti sudah memperoleh data lengkap tentang obyek yang diteliti. Sehingga dengan demikian dianggap sudah diperoleh pemahaman terhadap bidang kajian.


  1. Analisis Data

Analisa data merupakan upaya mencari dan menata secara sistematis catatan hasil observasi, wawancara dan dokumentasi untuk meningkatkan pemahaman peneliti tentang persoalan yang diteliti dan menyajikannya sebagai temuan bagi orang lain. Sedangkan untuk meningkatkan pemahaman tersebut, analisa perlu dilanjutkan dengan upaya mencari makna dibalik yang empiri sensual.

Dalam penelitian kualitatif, analisa data dalam prakteknya tidak dapat dipisahkan dengan proses pengumpulan data. Kedua kegiatan ini ber-jalan serempak, artinya analisa data dikerjakan bersamaan dengan pengumpulan data dan dilanjutkan setelah pengumpulan data selesai. Dengan demikian secara teoritik analisa dan pengumpulan data dilaksanakan secara berulang-ulang guna memecahkan masalah. Nasution mengingatkan, bahwa data kualitatif terdiri atas kata-kata, bukan angka-angka, dimana diskripsinya memerlukan analisa untuk mendapatkan gambaran yang lebih mendalam dengan memahami makna atau verstehen.




  1. Pemeriksaan Keabsahan Data

Dalam penelitian ini, pemeriksaan keabsahan data didasarkan atas dasar kriteria-kriteria tertentu untuk menjamin kepercayaan data yang diperoleh melalui penelitian. Menurut Moleong kriteria tersebut ada 4 (empat) macam, yaitu ; kredibilitas, transerabilitas, dependabilitas, dan konfirmabilitas. Akan tetapi yang digunakan dalam penelitian ini terdiri dari 3 (tiga) kriteria, yaitu : kredibilitas, dependabilitas, dan konfirmabilitas.


    1. Kredibilitas

Kredibilitas data dimaksudkan untuk membuktikan data yang berhasil dikumpulkan sesuai dengan dunia nyata serta terjadi sebenarnya. Untuk mencapai nilai kredibilitas ada beberapa teknik yang digunakan diantaranya teknik triangulasi sumber, pengecekan anggota, kehadiran peneliti di lapangan, diskusi teman sejawat, pengamatan secara terus menerus, pengecekan kecukupan referensi. Triangulasi yang digunakan dalam penelitian ini adalah sumber data dan metode. Triangulasi sumber data dilakukan dengan cara menanyakan kebenaran data tertentu dari warga dan civitas akademika MTs Al-Hidayah Pagotan Jombang yang satu untuk dikonfirmasikan kepada informan yang lain. Triangulasi metode juga dilakukan dengan cara membandingkan data atau informasi yang dikumpulkan dari observasi, kemudian diban-dingkan dengan data dari wawancara dan dokumentasi yang terkait langsung dengan data tersebut.

Pengecekan anggota dilakukan dengan cara menunjukkan data atau informasi, termasuk hasil interpretasi peneliti yang sudah ditulis dengan rapi dalam bentuk catatan lapangan atau transkrip wawancara pada informan agar dikomentari, disetujui atau tidak dan bisa ditambah infor-masi lain, jika dianggap perlu. Pengecekan anggota dapat dilakukan secara formal atau tidak formal.

Perpanjangan keikutsertaan peneliti dapat menguji kebenaran informasi yang diperoleh secara distorsi, baik berasal dari peneliti sendiri maupun dari civitas akademika MTs Al-Hidayah Pagotan Jombang. Distorsi tersebut mungkin tidak sengaja atau kekhilafan. Perpanjangan keikutsertaan dapat membangun kepercayaan civitas akademika MTs Al-Hidayah Pagotan Jombang kepada peneliti sehingga antara peneliti dan informan kunci tercipta hubungan ke-akraban yang baik, sehingga memudahkan para civitas akademika MTs Al-Hidayah Pagotan Jombang mengungkapkan sesuatu secara transparan dan ungkapan hati yang tulus dan jujur.

Diskusi teman sejawat dilakukan melalui diskusi dengan teman-teman program studi Manajemen Pendidikan Islam, baik angakatan sebelumnya maupun angkatan sekarang. Diskusi teman sejawat ini dilakukan dengan cara membahas data dan temuan-temuan penelitian selama peneliti berada di lapangan, peneliti akan mendiskusikan hasil kembalian data dengan guru-guru dan kepala sekolah. Melalui diskusi teman sejawat diharapkan banyak memberikan kritikan demi menyempurnakan pembahasan dan menjadikan bahan informasi bagi peneliti untuk keperlu-an audit dikemudian hari.



    1. Dependabilitas

Kriteria ini digunakan untuk menjaga kehati-hatian akan terjadi-nya kemungkinan kesalahan dalam mengumpulkan data sehingga data tersebut dipertanggungjawabkan secara ilmiah. Kesalahan banyak disebabkan faktor manusia itu sendiri terutama peneliti sebagai instrumen kunci yang dapat menimbulkan ketidakpercayaan kepada peneliti. Mungkin karena keletihan atau karena keterbatasan mengingat sehingga membuat kesalahan. Konsep ketergantungan disini dimaksudkan agar peninjauan data dan konsep dilakukan dengan mempertimbangkan segala innstrumen data termasuk didalamnya adalah peneliti.

Konsep dependabilitas (ketergantungan) lebih luas dikarenakan dapat memperhitungkan segalanya, yaitu apa yang dilakukan oleh seluruh civitas akademika MTs Al-Hidayah Pagotan Jombang sebagai perwujudan ke-unggulannya. Cara untuk menetapkan bahwa proses penelitian dapat dipertanggungjawabkan melalui audit dependabilitas oleh auditor independen guna mengkaji kegiatan yang dilakukan peneliti. Dalam penelitian ini sebagai auditor adalah dosen pembimbing.



    1. Konfirmabilitas

Kriteria ini digunakan untuk menilai hasil penelitian yang dilakukan dengan cara mengecek data dan informasi dan interpretasi hasil penelitian yang didukung oleh materi yang ada pada pelacakan audit (audit trail). Dalam pelacakan audit ini peneliti menyiapkan bahan-bahan yang diperlukan seperti data lapangan berupa :

          1. Catatan lapangan dari hasil pengamatan peneliti tentang aktivitas MTs Al-Hidayah Pagotan Jombang.

          2. Kemampuan kepemimpinan kepala madrasah.

          3. Kemampuan manajerial para tenaga kependidikannya.

          4. Interaksi antara kepala madrasah dengan guru.

          5. Wawancara dan transkrip wawancara dengan Kepala MTs Al-Hidayah Pagotan Jombang.

          6. Hasil rekaman.

          7. Analisis data.

          8. Hasil sintesa.

          9. Catatan proses pelaksanaan penelitian yang mencakup metodologi, strategi, serta usaha keabsahan.

Dengan demikian pendekatan konfirmabilitas lebih menekankan pada kerekteristik data yang menyangkut kegiatan para penglolanya dalam mewujudkan konsep tersebut. Upaya ini bertujuan untuk mendapatkan kepastian bahwa data yang diperoleh itu benar-benar obyektif, bermakna, dapat dipercaya, faktual dan dapat dipastikan. Berkaitan dengan pengumpulan data ini, keterangan dari civitas akademika MTs Al-Hidayah Pagitan Jombang perlu diuji krediblitasnya. Hal inilah yang menjadi tumpuan penglihatan, pengamatan obyektivitas, subyektivitas untuk menuju suatu kepastian


  1. Tahap-Tahap Penelitian

Moleong mengungkapkan bahwa pelaksanaan penelitian meliputi 4 (empat) tahap, yaitu :

    1. Tahap Pra Lapangan

Tahap ini meliputi kegiatan penentuan fokus penyesuaian para-digma dengan teori dan disiplin ilmu, penjajakan latar penelitian men-cakup observasi awal ke lapangan penelitian dan permohonan izin kepa-da subyek yang diteliti dan pihak-pihak yang berkepentingan. Selain itu dilakukan juga konsultasi pusat penelitian, penyusunan usulan penelitian, seminar proposal penelitian, baik dalam skala kecil maupun besar.

    1. Tahap Lapangan

Tahap ini meliputi pengumpulan data-data yang terkait dengan masalah penelitian. Dalam tahap ini peneliti akan terus mencari data tentang kepemimpinan kepala madrasah dalam meningkatkan profesio-nalisme guru sampai pada kelengkapan data penelitian.

    1. Tahap Analisa Data

Tahap ini meliputi analisa data yang diperoleh dri hasil wawan-cara dengan kepal madrasah dan para instrumen penelitian lainnya mau-pun melalui dokumen yang dikumpulkan selama penelitian. Setelah itu di lakukan penafsiran data sesuai dengan konteks permasalahan yang di-teliti. Selanjutnya melakukan pengecekan keabsahan data dengan cara mengecek sumber data dan metode yang dipergunakan untuk memperoleh data sehingga data benar-benar kredibel sebagai dasar dan bahan untuk pemberian makna data yang merupakan proses penentuan dalam memahami konteks penelitian yang sedang diteliti.

Tahap ini kemudian diakhiri dengan kegiatan penyusunan hasil penelitian dari semua rangkaian kegiatan pengumpulan data sampai pemberian makna data. Setelah itu melakukan konsultasi hasil penelitian dan saran atau koreksi pembimbing untuk mendapatkan kritikan, perbaikan dan saran atau koreksi pembimbing, yang kemudiuan akan ditindaklanjuti dengan perbaikan atas semua yang dikatakan atau disarankan dosen pembimbing dengan menyempurnakan hasil penelitian tesis. Langkah terakhir adalah melakukan pengurusan kelengkapan persyaratan untuk mengadakan ujian tesis.





1Lexy J. Moleong, Metodologi Penelitian Kualitatif, (Bandung: Remaja Rosda Karya, 2005), hal 6

2 Ibid, hal. 6

3 Ibid, hal. 4

4Sukardi, Metodologi Penelitian Pendidikan Kompetensi dan Prakteknya, (Yogyakarta: Bumi Aksara, 2003), h 157

5Ibid, hal. 158

6 Lexy J. Moleong, Metodologi Penelitian ….., hal. 4

7 Ibid, hal. 5

8 Suharsimi Arikunto, Prosedur Penelitian Suatu Pendekatan Praktik, (Jakarta: Rineka Cipta, 2006), 129

9 Ibid, hal. 130

10 Arifin Imron,Penelitian Kualitatif Dalam Bidang Ilmu-ilmu Sosial dan Keagamaan, (Malang: Kalimasahada Press,1994), 63

11 Ibid, hal. 65

12 Ngalim Purwanto, Prinsip-Prinsip dan Teknik Evaluasi Pengajaran, (Bandung: PT. Remaja Rosdakarya, 2006), 149

13 Ibid, hal. 150



Dostları ilə paylaş:


Verilənlər bazası müəlliflik hüququ ilə müdafiə olunur ©genderi.org 2019
rəhbərliyinə müraciət

    Ana səhifə