Gambaran pengetahuan akseptor kb suntik 3 bulanan tentang gangguan pola haid di bps ny sukatmi kecamatan grogol kabupaten kediri



Yüklə 40,59 Kb.
tarix18.05.2018
ölçüsü40,59 Kb.

GAMBARAN PENGETAHUAN AKSEPTOR KB SUNTIK

3 BULANAN TENTANG GANGGUAN POLA HAID

DI BPS NY SUKATMI KECAMATAN GROGOL

KABUPATEN KEDIRI
Ira Titisari, S.Si.T; M.Kes, Triatmi Andri Yanuarini, M.Keb, Diany Wahyu Hapsari

Prodi Kebidanan Kediri Jl.KH.Wakhid Hasyim 64 B Kediri

Email: iratitisari@ymail.com

Berbicara tentang kesehatan reproduksi banyak sekali yang harus dikaji, tidak hanya tentang organ reproduksi saja tetapi ada beberapa aspek, salah satunya adalah kontrasepsi. Salah satu kontrasepsi yang populer di Indonesia adalah kontrasepsi suntik. Kontrasepsi suntik memiliki kelebihan dan kekurangan dan salah satu kelemahan dari kontrasepsi suntik adalah terganggunya pola haid diantaranya adalah amenorea, menoragia dan muncul bercak (spotting)(Gungde, 2008). Untuk itu peneliti tertarik untuk meneliti “Gambaran Pengetahuan Akseptor KB Suntik 3 Bulanan Tentang Gangguan Pola Haid di BPS Ny. Sukatmi Kecamatan Grogol Kabupaten Kediri”.

Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui Gambaran Pengetahuan Akseptor KB Suntik 3 Bulanan Tentang Gangguan Pola Haid. Teknik sampling yang digunakan adalah accidental sampling dengan sampelnya adalah sebagian akseptor KB Suntik 3 Bulanan yang tercatat di buku register di BPS Ny. Sukatmi Kecamatan Grogol Kabupaten Kediri sebanyak 34 orang.

Dari hasil penelitian ini menunjukkan pengetahuan Akseptor KB Suntik 3 Bulanan Tentang Gangguan Pola Haid 24% berpengetahuan baik, 64% berpengetahuan cukup dan 12% berpengetahuan kurang. Diharapkan kepada Bidan agar meningkatkan kualitas pelayanan KB dengan pemberian informasi yang berkaitan dengan efek samping pemakaian kontrasepsi khususnya KB suntik 3 bulanan tentang gangguan pola haid maupun hambatan medis yang mungkin ditemukan.


Kata Kunci : Akseptor KB Suntik 3 Bulanan, Gangguan Pola Haid, Pengetahuan


Pendahuluan

Berbicara tentang kesehatan reproduksi banyak sekali yang harus dikaji, tidak hanya tentang organ reproduksi saja tetapi ada beberapa aspek, salah satunya adalah kontrasepsi. Penggunaan kontrasepsi merupakan salah satu variabel yang mempengaruhi fertilitas dan sampai saat ini belum ada suatu cara kontrasepsi yang 100% ideal (Sarwono,1999).

Saat ini tersedia banyak metode atau alat kontrasepsi meliputi Alat Kontrasepsi Dalam Rahim, suntik, pil, implant, kontap, kondom (BKKBN, 2004). Salah satu kontrasepsi yang populer di Indonesia adalah kontrasepsi suntik. Kontrasepsi suntik yang digunakan adalah Depo Medroxy Progesterone Asetat, Noretrindrone Etanat dan cyclofem (Sarwono,1998). Kontrasepsi suntik memiliki kelebihan dan kekurangan dan salah satu kelemahan dari kontrasepsi suntik adalah terganggunya pola haid diantaranya adalah amenorea, menoragia dan muncul bercak (spotting)(Gungde, 2008). Gangguan haid disini disebabkan karena ketidakseimbangan Folicle Stimulating Hormone atau Luteinizing Hormone sehingga kadar esterogen dan progesteron tidak normal. Biasanya, gangguan haid yang sering terjadi adalah siklus haid yang tidak teratur atau jarang, dan perdarahan yang lama atau abnormal (http://www.kabarindonesia.com). Sepertiga pemakai KB suntik di Indonesia tidak mengalami menstruasi pada 3 bulan pertama setelah suntikan pertama diberikan dan sepertiga lainnya mengalami perdarahan tidak teratur atau spotting selama lebih dari 11 hari setiap bulannya (Anonim, 2008).

Berdasarkan data Badan Koordinasi Keluarga Berencana Nasional Pusat, jumlah pasangan usia subur yang menggunakan metode kontrasepsi terbesar menggunakan suntik 31,6% , pil 13,2% Intra Uterine Device 4,8% , implant 2,8% , kondom 1,3% , kontap wanita (medis operasi wanita) 3,1% , kontap pria (medis operasi pria) 0,2% , pantang berkala 1,5% , senggama Terputus 2,2%,metode lainnya 0,4% . (Bidahlata, 2008)

Berdasarkan data yang diperoleh dari Wilayah Kerja Puskesmas Grogol pada bulan Januari 2009 didapatkan data efek samping dari penggunaan kontrasepsi suntik 3 bulanan yaitu amenorea 69,66%, perdarahan bercak (spotting) 4,86%, penambahan Berat Badan 25,46%.

Berdasarkan studi pendahuluan pada tanggal 7-8 Februari 2009 di BPS Ny Sukatmi Kecamatan Grogol Kabupaten Kediri terdapat 12 akseptor KB yang berkunjung, 7 diantaranya adalah akseptor KB suntik 3 bulanan yang telah beralih ke metode kontrasepsi yang lain dengan alasan ibu khawatir dan merasakan ketidakyamanan dengan gangguan pola haid yang dialaminya. Dari 7 akseptor KB suntik 3 bulanan tersebut 4 diantaranya beralih menggunakan kontrasepsi suntik 1 bulanan, dan 3 diantaranya beralih menggunakan kontrasepsi Pil. Disamping itu ada 1 akseptor yang memutuskan untuk berhenti menggunakan metode kontrasepsi karena kekhawatiran akan mengganggu pola haidnya. Dari uraian di atas, peneliti berminat untuk melakukan penelitian tentang Gambaran Pengetahuan Akseptor KB Suntik 3 Bulanan Tentang Gangguan Pola Haid di BPS Ny Sukatmi Kecamatan Grogol Kabupaten Kediri.



Tujuan umum : untuk mengetahui gambaran pengetahuan akseptor KB Suntik 3 Bulanan Tentang Gangguan Pola Haid

Tinjauan Pustaka

Pengetahuan adalah merupakan hasil “tahu”, dan ini terjadi setelah orang melakukan pengindraan terhadap suatu objek tertentu. Pengindraan terjadi melalui pancaindra manusia, yakni : indra penglihatan, pendengaran, penciuman, rasa dan raba. Sebagian besar pengetahuan diperoleh dari mata dan telinga.

Akseptor KB adalah orang yang melaksanakan program keluaga berencana untuk mendapatkan objektif-objektif tertentu, menghindari kehamilan yang tidak diinginkan, mengatur interval diantara kehamilan, menentukan jumlah anak dalam keluarga (Hanafi, 2004).

Efek Samping kontrasepsi suntikan adalah gangguan Haid, ini paling sering terjadi dan yang paling mengganggu (Hanafi, 2004). Gangguan Pola Haid adalah Ketidakteraturan yang disebabkan karena gangguan hormon tubuh. Gangguan haid disini disebabkan karena pengaruh hormon progesterone dalam DMPA (Info sehat, 2008). Gangguan siklus menstruasi yang tidak teratur terjadi pada awal penyuntikan dan amenorea setelah 2 – 3 kali penyuntikan (Pkm Wairorosatu, 2008).



Metode Penelitian

Jenis penelitian ini yang digunakan adalah deskriptif yaitu untuk mendeskripsikan (memaparkan) peristiwa yang terjadi pada masa kini. Populasi dalam penelitian ini adalah seluruh akseptor KB suntik 3 bulanan yang tercatat di buku register di BPS Ny Sukatmi Grogol Kediri sejumlah 524 orang. Sampel dalam penelitian ini adalah sebagian akseptor KB suntik 3 bulanan yang tercatat di buku register di BPS Ny Sukatmi Grogol Kediri sebanyak 34 orang. Sampling dalam penelitian ini adalah Accidental Sampling yaitu teknik pengambilan sampel yang dilakukan dengan mengambil kasus atau responden yang kebetulan ada atau tersedia (Notoatmojo, 2005) pada tanggal 15 Juni 2009 – 20 Juni 2009. Alat ukur yang digunakan dalam penelitian ini adalah dengan menggunakan angket. Pada penelitian ini teknik analisa data deskriptif kualitatif dengan prosentase rumus : P =

Keterangan :

P : Prosentase hasil

A : Skor yang didapat

B : Skor maksimal yang diharapkan (Nursalam, 2003)

Setelah itu diklasifikasikan dalam tingkat pengetahuan yaitu :

1. Pengetahuan Baik : 76-100%

2. Pengetahuan Cukup : 56-75%

3. Pengetahuan Kurang : < 56%

(Nursalam, 2003)

Hasil Penelitian


  1. Pengetahuan Akseptor KB Suntik 3 Bulanan Tentang Macam-macam Gangguan Pola Haid sebagian besar (67%) adalah Baik.

  2. Pengetahuan Akseptor KB Suntik 3 Bulanan Tentang Penanganan Gangguan Pola Haid sebagian besar (47%) adalah Kurang.


Pembahasan

Pengetahuan Akseptor KB Suntik 3 Bulanan Tentang Macam-macam Gangguan Pola Haid sebagian besar (67%) adalah Baik. Hal ini disebabkan karena Akseptor KB Suntik 3 Bulanan yang berkunjung di BPS berusaha menjalin komunikasi yang baik dengan tenaga kesehatan tentang macam-macam atau apa saja gangguan pola haid yang sering dialami akibat pemakaian KB suntik 3 bulanan. Selain itu mereka juga mendapatkan informasi melalui media massa seperti tabloid maupun buku yang berkaitan dengan KB, pemakaian kontrasepsi serta efek samping yang ditimbulkan akibat pemakaian kontrasepsi sehingga mereka lebih mudah mengingat informasi yang didapatkannya. Oleh sebab lain misalnya keaktifan mereka untuk bertanya kepada tenaga kesehatan pada saat mereka mengalami gangguan haid yang berbeda antara akseptor yang satu dengan akseptor yang lain sehingga mereka mengetahui bahwa hal itu merupakan macam dari gangguan pola haid akibat pemakaian kontrasepsi 3 bulanan. Kontrasepsi suntik memiliki kelebihan dan kekurangan dan salah satu kelemahan dari kontrasepsi suntik adalah terganggunya pola haid, diantaranya adalah amenorea, menoragia, dan muncul bercak (spotting) (Gungde, 2008). Menurut Notoatmodjo (2003), pengetahuan merupakan hasil tahu setelah seseorang melakukan pengindraan terhadap suatu objek tertentu. Pengindraan terjadi melalui pancaindera manusia, yakni indera penglihatan, pendengaran, penciuman, perasa dan peraba. Sebagian besar pengetahuan manusia diperoleh dari mata dan telinga. Sedangkan menurut Sunaryo (2004) pengetahuan adalah hasil dari tahu yang terjadi setelah melalui proses sensoris khususnya mata dan telinga terhadap objek tertentu. Pengetahuan merupakan domain yang sangat penting untuk terbentuknya perilaku terbuka (overt behaviour).



Pengetahuan Akseptor KB Suntik 3 Bulanan Tentang Penanganan Gangguan Pola Haid sebagian besar (47%) adalah Kurang. Terdapat 16 responden yang berpengetahuan kurang, hal ini disebabkan karena daya tangkap responden yang lemah dalam menangkap penjelasan dari petugas kesehatan. Selain itu responden bersikap acuh terhadap efek samping yang dialaminya. Gangguan pola haid pada penggunaan KB suntik 3 bulanan merupakan hal yang wajar, namun apabila hal itu dirasa sangat mengganggu hendaknya akseptor tahu bagaimana cara penanggulangan gangguan pola haid tersebut, tapi pada kenyataanya banyak dari mereka yang kurang tahu bahkan bersikap acuh. Padahal dari awal sebelum pemakaian kontrasepsi tenaga kesehatan sudah memberikan penjelasan mengenai hal ini. Ini dapat dilihat dari hasil tabulasi jawaban responden pada angket soal nomor 10 hingga 12. Sebagian besar dari responden kurang tahu tentang apa yang dilakukan apabila terjadi perdarahan haid yang berlebihan dan perdarahan bercak diluar haid. Seperti diketahui efek samping dan komplikasi dari pemakaian KB suntik adalah bervariasi dari akseptor satu ke akseptor yang lain. Disatu sisi sangat menguntungkan bagi akseptor, disisi lain kadang merugikan sehingga ada beberapa akseptor yang berhenti memakainya. Sebagian besar pemakai KB suntik 3 bulanan terjadi peningkatan insiden bercak darah yang tidak teratur dan sedikit/ perdarahan diluar siklus, kadang berkepanjangan dan kadang dengan oligomenorea atau bahkan amenorea. Disini Amenorea dianggap sebagai keuntungan yang penting bagi sebagian wanita tetapi sulit diterima oleh sebagian lainnya (Anna Glasier, Ailsa Gebbi, 2005: 94). Dalam Depkes RI (2002: VI) disebutkan penanganan efek samping dan komplikasi kontrasepsi yang kurang benar dapat menimbulkan akibat yang tidak diinginkan seperti drop out dan timbulnya rumor (gosip) yang berlebihan, dan ketidakpuasan akseptor KB. Menurut Nanda (2005) bahwa faktor-faktor yang terkait dengan kurangnya pengetahuan seseorang terdiri dari: kurang terpapar informasi, kurang daya ingat atau hapalan, salah menafsirkan informasi, kurang minat untuk belajar dan tidak familiar terahadap sumber informasi (Putriazka, 2006).
Daftar Pustaka

  1. Admin. 2008. http://www.biohealthworld.com. Diakses tanggal 13 Februari 2009




  1. Alimul, Aziz. 2007. Metode Penelitian Kebidanan dan Teknik Analisa Data. Jakarta: Salemba Medika




  1. Anonim. 2008. http://www.medicastro.com. Diakses tanggal 19 Januari 2009




  1. Bidlahta, BPDE. 2008. http://www.jatimprov.go.id/index.php?option=com. Diakses tanggal 22 Januari 2009




  1. Depkes, RI. 1999. Pedoman Penanggulangan Efek Samping Kontrasepsi. Jakarta: Depkes RI




  1. Glasier, Anna. 2005. Pedoman Klinis Kontrasepsi. Jakarta : EGC




  1. Gungde. 2008. http://oneindoskrip.com. Diakses tanggal 11 Februari 2009




  1. Harry. 2005. Gizi Keluarga. http://www.gizikeluarga.org?php=155. Diakses tanggal 22 Juni 2009




  1. Hartanto, Hanafi. 2004. Keluarga Berencana dan Kontrasepsi. Jakarta: Pustaka Sinar Harapan




  1. Ida Bagus Manuaba. 2003. Keluarga Berencana http://www.wikipedia.com.net.id. Diakses tanggal 13 Februari 2009




  1. Info Sehat. 2008.http://www.acehforum.or.id/gangguanhaid.com. Diakses tanggal 13 Februari 2009




  1. Jack. 2008. http://www.kabarindonesia.com. Diakses tanggal 12 Februari 2009




  1. Monte, dr. 2008. http://www.klikdoktor.com. Diakses tanggal 20 Februari 2009




  1. Notoatmojo, Soekidjo. 2003. Ilmu Kesehatan Masyarakat. Jakarta : Rineka Cipta




  1. __________. 2005. Metodologi Penelitian Kesehatan. Jakarta: Rineka Cipta




  1. Nursalam. 2003. Konsep dan Penerapan Metodologi Penelitian Ilmu Keperawatan. Jakarta: Salemba Medika




  1. Nursalam, Partiani. 2001. Pendekatan Praktis Metodologi Riset Keperawatan. Jakarta: CV. Agung Seto




  1. P

    km wairorosatu. 2008. http://wairorosatu.blogsot.com. Diakses tanggal 8 Februari 2008






  1. Putriazka. 2006. Konsep Pengetahuan. http://putriazka. Wordpress.com. Diakses tanggal 22 Juni 2009




  1. Razali. 2008. http://www.idwikipedia.com. Diakses tanggal 13 Februari 2009




  1. Reza. 2008. http://www.medicastro.com. Diakses tanggal 13 Februari 2009




  1. Saifudin, Abdul Bari. 2006. Buku Panduan Praktis Pelayanan Kontrasepsi. Jakarta: YBPSP




  1. Sarwono, Prawirohardjo. 2005. Ilmu kandungan. Jakarta: YBPSP




  1. __________. 1999. Ilmu kebidanan. Jakarta: YBPSP




  1. Speroff, Philip Darney. 2003. Pedoman Klinis Kontrasepsi. Jakarta: EGC




  1. Sugiyono. 2006. Metodologi Penelitian Administrasi. Bandung: Alfabeta




  1. Sunaryo. 2004. Psikologi Untuk Keperawatan. Jakarta : EGC










Dostları ilə paylaş:


Verilənlər bazası müəlliflik hüququ ilə müdafiə olunur ©genderi.org 2019
rəhbərliyinə müraciət

    Ana səhifə