Bab landasan teori tinjauan umum Men Space di Jakarta Defininisi Men



Yüklə 257,54 Kb.
səhifə2/4
tarix20.09.2017
ölçüsü257,54 Kb.
1   2   3   4

2.3 Tinjauan Umum Kafe

Kata cafe berasal dari bahasa perancis yaitu cafe yang berarti coffee dan dalam bahasa Indonesia berarti kopi atau coffeehouse dalam bahasa Indonesia kedai kopi, maka pengertian cafe adalah sebagai tempat untuk mendapatkan minuman kopi dan sebagai tempat bersantai meminum kopi. Seiring dengan berkembangnya zaman, cafe memiliki fungsi lain sesuai dengan pemikiran dan kebutuhan setiap individunya.



Café pertama kali dibuka di konstantinopel pada tahun 1555. Seiring berjalannya waktu café-pun tersebar di seluruh dunia dengan konsep-konsep baru yang lebih menarik, namun tetap mempertahankan fungsi awalnya yaitu sebagai kedai kopi.
2.3.1 Fungsi dan Tujuan Terhadap Kafe

Kafe dewasa ini adalah sebuah tempat yang bersifat komersial, menjual kopi dan makanan pendukung lain, melayani masyarakat umum dan cermin pertumbuhan peradaban umat manusia yang bertujuan untuk mencari kenikmatan dan kesenangan untuk meminum kopi dalam kesenggangan waktu sendiri atau berkumpul dengan orang lain yang digunakan ditengah kesibukan pekerjaan.


2.3.2 Klasifikasi Jenis Kegiatan pada Kafe

  1. Konsumsi

Pengunjung sebagai pelaku konsumen yang datang karena membutuhkan produk yang dijual pada tempat tersebut.

  1. Rekreasi

Mengandung arti untuk dinikmati, yang mana merupakan kegiatan yang menimbukan kesegaran dan tidak menimbulkan konsentrasi.

  1. Pendidikan

Kegiatan ini lebih ditekankan pada maksud kedatangan pengunjung untuk pertemuan bisnis atau kolega perusahaannya.
2.3.3 Klasifikasi Jenis Aktifitas Kafe

Aktifitas pada kafe dapat dibedakan menjadi tiga, yaitu :



  1. Aspek pengunjung

  • Pengunjung yang datang dan langsung memesan hidangan.

  • Pengunjung yang telah memesan, membayar produk yang dipesan.

  • Pengunjung yang telah membayar, menunggu hidangan disiapkan.

  • Pengunjung yang telah mendapat hidangan, mendapati tempat duduk mereka.

  1. Aspek penunjang kinerja pegawai

  • Pegawai melayani pengunjung yang memesan hidangan.

  • Pegawai melayani pengunjung yang membayar hidangan.

  • Pegawai meracik dan menyiapkan hidangan yang dipesan.

  1. Aspek pegawai

  • Pegawai membuat laporan harian, mingguan, bulanan dan tahunan pengeluaran dan pendapatan kafe.

  • Pegawai mengadakan rapat rutin untuk kinerja kafe.

  • Pegawai mengadakan pergantian jadwal pekerja.


2.3.4 Klasifikasi Fasilitas Kafe

  1. Fasilitas untuk pengunjung, yaitu :

  • Tempat untuk meminum kopi dan makan makanan.

  • Tempat berkumpul (hangout)

  • Tempat mengadakan acara tertentu seperti nonton bareng atau gigs dan live music.

  1. Fasilitas kafe untuk menunjang kinerja pegawai, yaitu :

  • Tempat untuk mendisplay produk makanan dan minuman.

  • Tempat untuk menyimpan bahan makanan dan minuman.

  • Tempat untuk meracik makanan dan minuman.

  • Tempat untuk pengunjung memesan makanan dan minuman.

  • Tempat untuk pengunjung membayar makanan dan minuman.

  • Tempat untuk menyimpan alat makan dan minum.

  1. Fasilitas kafe untuk pegawai

  • Ruang kerja kepala pegawai

  • Ruang kerja pegawai

  • Tempat penyimpanan barang untuk pegawai


2.3.5 Persyaratan Umum Kafe

1. Menarik perhatian dan membuat pengunjung nyaman.

2. Penghawaan dan sirkulasi yang baik.

3. Pencahayaan dalam ruang sesuai, tidak terlalu terang dan redup. (Neufert, Data Arsitek Jilid 2 120).


2.3.6 Persyaratan Khusus Kafe

  • Elemen Interior Kafe

  1. Lantai, harus fungsional dan dekoratif dimana menggambarkan kenyamanan, hangat dan tenang yang diharapkan dan kebersihan menjadi pertimbangan (Lawson 40). Penutup lantai harus dapat mempresentasikan suasana hangat dan tenang dengan tetap memperhatikan ketahanan dan kebersihan

  2. Dinding, untuk memberikan kesan formal maka diperlukan perancangan yang stabil, akurat dan simetris yang dapat diperbaiki dengan tektur halus. Sedangkan pola, tekstur dan warna yang kuat akan memberikan kesan aktif dan mengundang perhatian pengunjung. Beberapa bahan yang dapat digunakan untuk pengaplikasian dinding yaitu batu bata, kayu, yumen board, dan gypsum board.

  3. Ceiling, menggunakan material yang mudah dibersihkan, tidak mudah terbakar, pemilihannya sesuai konsep dan memiliki jangka waktu yang lama, minimal 5 tahun (Suptandar 161).

  • Sirkulasi Ruang

  1. Sirkulasi linear, terbentuk berdasarkan ruang yang telah dilalui dan diarahkan ke satu tujuan dengan satu jalan dan harus melewati jalan tersebut.

  2. Sirkulasi liniar bercabang, pengunjung tidak terganggu karena adanya pembagian ruang yang jelas (Ching 234).

  3. Sirkulasi radial, pengunjung tidak diarahkan ke suatu tempat.

4. Sirkulasi random, pengunjung dapat memilih jalan yang

diinginkan tanpa ada batasan-batasan dinding atau pemisah.



  • Sirkulasi Kafe

  1. Flow, mengoptimalkan meliputi jarak, kapasitas, kecepatan dan arah. Pola tersebut dihasilkan konsumen, karyawan, makanan dan pelayanan.

  2. Pengarahan jalan.

  3. Jarak, terbagi dalam beberapa jenis, yaitu :

  1. Jarak publik, meliputi jarak yang akan didapat memasuki restoran, pandangan untuk berjalan ke area makan dan ketika memasuki area pengambilan makanan didapur. Jarak publik sekitar 12 kaki dan seterusnya (>365,8cm).

  2. Jarak sosial, jarak yang di rasakan pada pengunjung ketika melihat layar televisi, pertunjukan, pelayan yang sibuk bekerja di restoran, dan pegawai dapur yang merasakan bahwa mereka terlihat oleh pelanggan yang berjalan melewati dapur. Jarak sosial sekitar 4-12 kaki (121,9cm – 365,8cm).

  3. Jarak personal, jarak seperti ketika berbicara pada teman makan disebrang meja. Jarak ini sekitar 18 inci – 4 kaki (45,72cm- 121,9cm).

  4. Jarak kontak fisik, jarak yang cukup dekat untuk bersentuhan dengan teman makan, seperti duduk berdampingan pada sofa. Jarak ini sekitar 18 inci (<45,72cm).

Gambar 2.1. Jarak Bersih Sirkulasi

(Sumber : Dimensi manusia dan Ruang Interior)


  • Pembagian Ruang kafe

  1. Area makan untuk menikmati hidangan ringan yang berupa :

  1. Hot Drink & Cold Drink

  2. Hot Food & Cold Food

  1. Persyaratan luas untuk area makan, yaitu :

  1. 1,2-1,4 m2 perorangan dilayani oleh pelayan.

  2. 0,83 m2 untuk perorangan.

  1. Area makan harus memenuhi kriteria sebagai berikut :

  1. Peletakan meja harus berdekatan dengan tiang dan kolom bila berada pada tengah ruangan.

  2. Antar tempat duduk dan tempat duduk yang membelakangi menjadi jalur pelayanan dengan jarak 1,35 m sebagai jarak maksimum 2 pramusaji.

  3. Pergeseran maju mundur kursi 10-20 cm untuk kebutuhan duduk.

4. Pergeseran kursi untuk pelanggan berdiri sekitar 30 cm.

5. Pintu masuk tidak bersilangan dengan jalur pelayan.

6. Lounge, yaitu tempat tunggu sementara pada bagian

kafe.


7. Bar, yaitu tempat menikmati minuman yang diracik oleh

bartender. Terdapat kursi tinggi yang merapat meja dan

jarak antar kursi 75 mm.

8. Kasir terletak dengan bar karena mudah dijangkau oleh

pelayan.



  • Furniture pada Kafe

Pemilihan pada furniture merupakan cerminan lain kepribadian kafe dan harus disesuaikan dengan kebutuhan juga estetika dan ergonomi.

Desain furniture terbagi atas dua kategori :



  1. Furniture berbentuk kotak (case) meliputi meja, lemari dan kursi yang tidak mempunyai pelapis.

  2. Furniture yang dilapisi, meliputi sofa atau kursi yang seluruh atau sebagian diberi pelapis (Suptandar 173).

Menurut pola aktifitas yang dijalani pengunjung, dapat diuraikan kebutuhan ruang untuk furniture pada kafe, yaitu :

  1. Tempat duduk dan meja, yang perlu diperhatikan pada elemen tempat duduk dan meja adalah permukaan dan bentuk, ketinggian dan lebar, posisi selektif, dan jarak antar meja dan tempat duduk.

Ukuran dan tata letak :

  1. Panjang meja untuk 2 pengunjung yaitu 85 cm.

  2. Tinggi kursi secara keseluruhan sampai sandaran 90 cm.

  3. Tinggi kursi samapai bagian duduk 45 cm.

  4. Panjang dan lebar kaki kursi 45 cm x 45 cm.

  5. Luas meja relatif dapat disesuaikan kebutuhan

  6. J
    arak kursi dengan kursi yang membelakangi yaitu untuk 2 pramusaji 1,35 m dan untuk 1 pramusaji 90 cm.

Gambar 2.2. Dimensi Tubuh Manusia saat Duduk
(Sumber : Dimensi Manusia dan Ruang Interior)

  1. Material, untuk area outdoor biasanya menggunakan bahan besi tempa karena memiliki ketahanan tinggi dan dapat dilapisi dengan berbagai macam warna cat. Sedangkan untuk area indoor dapat menggunakan berbagai macam material karena tidak langsung terkena cuaca luar.

  2. S
    truktur, ukuran dan ledutan pada alas ataupun sandaran kursi mempengaruhi kenyamanan konsumen karena dapat mempercepat rata-rata pergantian pengunjung (Baraban dan Durocher 106).

Gambar 2.3. Dimensi Standar Aktifitas Makan

(Sumber : Dimensi Manusia dan Ruang Interior)



  1. Fitur spesial, berat pada tempat duduk agar dapat dipindahkan akan mengarah pada citra kafe dan mengarah pada operasional kafe yang memudahkan konsumen untuk menggerakkannya.

  2. Layout duduk, variasi pada peletakkan tempat duduk menawarkan pilihan untuk suasana yang lebih terbuka dan intim serta mempengaruhi jumlah tempat duduk pada ruangan (Baraban dan Durocher 107).

G

ambar 2.4. Pengaturan Meja Pararel

(Sumber: Dimensi Manusia & Ruang Interior)

Gambar 2.5. Pengaturan Meja secara Diagonal

(Sumber: Dimensi Manusia & Ruang Interior)




  1. M
    eja dan atas meja, merupakan poin utama pada kafe. Semua komponen penting untuk dipertimbangkan ketika memilih meja pada kafe. Ukuran mempengaruhi benda-benda yang akan diletakkan di meja untuk dipergunakan.

Gambar 2.6. Area Opersional dan Tamu

(Sumber: Dimensi Manusia & Ruang Interior)



2.4. Tinjauan Umum Barbershop

Barbershop merupakan jasa perawatan dan pemotongan rambut pada pria, Tidak hanya memangkas rambut atau menata rambut pria, namun juga mencukur rambut di muka, kumis dan jenggot. Praktek pemotongan rambut pada pria (barbershop) berawal dari Wilayah Macedonia sekitar 400 tahun sebelum masehi lalu menyebar ke Mesir dan daerah-daerah lainnya. Kata "barber" berasal dari bahasa latin "barba" yang artinya janggut. Bangsa pertama yang mengklaim dirinya paling ahli dalam jasa pelayanan pemotongan rambut adalah bangsa Roma sekitar 296 tahun sebelum masehi. Akan tetapi baik pada bangsa Roma maupun Mesir, barbershop memiliki reputasiyang kurang baik karena orang-orang elit kelas atas pada waktu itu memiliki tukang cukur pribadi. Pada masa itu, janggut pada lelaki menjadi simbol kekuatan dan intelegensi sehingga harus dirawat dengan baik dan teratur.


2.4.1 Klasifikasi Aktivitas

  • Pelanggan

- Reservasi perawatan & tempat

- Konsultasi mengenai info perawatan

- Menikmati perawatan

- Melakukan pembayaran



  • Resepsionis

- Menerima order

- Konfirmasi janji

- Pendataan pelanggan

- Memberikan konsultasi perawatan

- Menerima transaksi pembayaran


  • Penata rambut

- Menata rambut

- mencuci rambut

- memberikan konsultasi mengenai kesehatan rambut

- Memberikan perawatan rambut



  • Terapis khusus

- Konsultasi perawatan

- Menjelaskan tahap perawatan

- Memijat badan, lengan dan kaki.


  • Karyawan (Office Boy/Cleaning Service)

- Membersihkan area lingkungan

- Membersihkan ruang treatment atau area salon setelah dipakai



  • Owner/Manager

- Supervisi kegiatan yang ada di salon

- Mendata

- Koordinasi tugas masing-masing karyawan

- Briefing dengan karyawan


2.4.2 Klasifikasi Fasilitas

  • Meja resepsionis

  • Area Tunggu

• Wall display produk

• Kaca dan meja (styling stations)

• Kursi barbershop ( non hidrolik)

• Kursi cuci rambut (backwash system/shampoo area)

• Alat steamer atau dryer rambut

• Peralatan barbershop (salon cart equipment)

• Stool

• Ruang Linen atau Laundry



• Ruang staff dan pengelola (back office)
2.4.3 Persyaratan khusus Barbershop

Dalam buku The Official Guide to the City & Guilds Certificate in salon services (John Armstrong, 2006, Thomson Learning) hal-hal perlu diperhatikan untuk keselamatan dan kesehatan lingkungan sebuah barbershop adalah sebagai berikut:

1. Penghawaan setiap ruangan di tempat kerja.

2. Perlunya diperhatikan ventilasi dan kelembaban udara di setiap ruangan

3. Fasilitas penting seperti toilet dan area pencucian peralatan salon

harus diperhatikan.

4. Adanya area sirkulasi atau koridor dan tidak boleh ada halangan

5. Pemilihan lantai yang baik, tidak boleh licin agar tidak

menggangg aktifitas barbershop

6. Pemeliharaan peralatan elektronik dalam salon harus disimpan

denga benar dan selalu dilakukan pemeriksaan apakah ada

kerusakan.

7. Kebersihan peralatan barbershop.

8. Penyediaan pembuangan limbah khusus karena adanya bahan

bahan kimia yang digunakan, seperti pewarna rambut, sampo, dan

sebagainya.

9. Memiliki peralatan lengkap untuk pemadaman kebakaran.

10. Melaporkan apabila ada kerusakan dalam segala hal, seperti

peralatan kaca, lemari, dan sebagainya yang dapat menjadi

membahayakan.


Berikut ini juga adalah studi antropometri pada pembuatan ruang sebuah barbershop terhadap dimensi manusia, seperti pada area styling, area tunggu, area pengeringan rambut dan juga pada pos pencucian rambut (shampoo unit).


Gambar 2.7. Standar Jarak pada Area Styling

(Sumber: Dimensi Manusia & Ruang Interior. Panero, J. & Zelnik, M.)







Gambar 2.8. Standar Tinggi Kursi Area Styling

(Sumber: Dimensi Manusia & Ruang Interior. Panero, J. & Zelnik, M.)






Gambar 2.9. Standar Tinggi Kursi Optimal

(Sumber: Dimensi Manusia & Ruang Interior. Panero, J. & Zelnik, M.)

Gambar 2.10. Sirkulasi Area Tunggu dan Pengeringan

(Sumber: Dimensi Manusia & Ruang Interior. Panero, J. & Zelnik, M.)


Gambar 2.11. Standar Sirkulasi Pos Pencucian Rambut

(Sumber: Dimensi Manusia & Ruang Interior. Panero, J. & Zelnik, M.)



Gambar 2.12. Pos Pencucian Rambut Pria dan Wanita

(Sumber: Dimensi Manusia & Ruang Interior. Panero, J. & Zelnik, M.)


2.5. Tinjauan Umum Reflexology

Reflexology adalah seni dan sains didasarkan pada premis bahwa peta virtual seluruh tubuh ada dibagian bawah telapak kaki dan tangan. Dengan menggunakan tekanan untuk merangsang titik refleks tertentu pada telapak kaki maupun tangan, pada daerah yang positif terpengaruh. Sebagai hasilnya, stres menjadi dan rileks tubuh dan kecenderungan alami tubuh terhadap penyembuhan tubuh dan keseimbangan tubuh.


2.5.1 Klasifikasi Kegiatan Reflexology

  • Back and shoulder massage

  • Indulgence foot relaxing

  • Foot reflexy therapy.


2.5.2 Klasifikasi Aktivitas

  • Pelanggan

- Reservasi perawatan & tempat

- Konsultasi mengenai info perawatan

- Menikmati perawatan

- Melakukan pembayaran



  • Resepsionis

- Menerima order

- Konfirmasi janji

- Pendataan pelanggan

- Memberikan konsultasi perawatan

- Menerima transaksi pembayaran


  • Terapis khusus

- Konsultasi perawatan

- Menjelaskan tahap perawatan

- Memijat badan, lengan dan kaki.


  • Owner/Manager

- Supervisi kegiatan yang ada di salon

- Mendata

- Koordinasi tugas masing-masing karyawan

- Briefing dengan karyawan


2.5.3 Klasifikasi Fasilitas

  • Meja resepsionis

  • Area Tunggu

Wall display produk

• Kursi Pijat Refleksi

• Peralatan refleksi

• Ruang staff dan pengelola (back office)


2.5.4 Persyaratan Reflexology

Menurut Pemerintah Kesehatan Republik Indonesia No. 1205 tentang Pedoman Persyaratan Kesehatan Spa, pernyaratan peralatan dalam pelayanan Spa yang harus dipenuhi antara lain sebagai berikut:



  1. Peralatan

Harus memadai serta terjamin mutu, manfaat dan keamanannya. Juga terdaftar di Departemen Kesehatan.

  1. Penggunaan dan Pemeliharaan

  • Penggunaan peralatan khusus harus dilakukan staff atau tenaga yang sudah terlatih

  • Peralatan yang dipergunakan harus dijaga kebersihannya. Setiap kali habis dipergunakan harus dicuci atau disterilkan dengan menggunakan sabun, air bersih atau bahan yang mengandung antiseptik atau desinfektan.

  • Peralatan harus diperiksa keamanannya oleh teknisi yang bekerja di Spa setiap kali sebelum penggunaan. Pemeriksaan dan pemeliharaan semua peralatan secara menyeluruh harus dilakukan pengecekan secara periodik.

  • Kalibrasi untuk instrumentasi yang menggunakan daya listrik seperti pengontrol suhu atau tekanan air harus dilakukan secara teratur minimal 6 (enam) bulan sekali.

  1. Bahan yang digunakan

  • Air

Air yang digunakan khusus untuk proses perawatan, tidak mengandung bahan-bahan berbahaya yang dapat mengganggu kesehatan dan harus sesuai dengan persyaratan dalam Peraturan Menteri Kesehatan.

  • Minyak atsiri (minyak essential)

Bahan yang dipergunakan untuk terapi aroma harus alami dan perlu diperhatikan jenis dan kemasan produk jadi sesuai dengan peraturan yang berlaku.

  • Ramuan

Produk yang berupa bahan ramuan tradisional dalam bentuk kemasan termasuk bahan kosmetika dan jamu. Harus sudah terdafatar di Departemen Kesehatan c.q. Badan Pom dan disimpan di tempat yang sejuk dan kering.

  • Bahan alami

Bahan alami berupa lumpur, mineral, tumbuhan, ramuan yang dipergunakan tidak mengandung zat berbahaya atau logam berat yang telah diuji oleh balai laboratorium kesehatan atau balai POM.

  1. Sarana Bangunan dan Lingkungan

  • Tersedianya sarana pembuangan limbah yang memenuhi syarat kesehatan (saluran dengan penampungan air limbah/septic tank).

  • Tersedianya sarana sanitasi (toilet) yang dilengkapi tempat cuci tangan dengan jumlah yang sesuai dan memenuhi syarat-syarat kesehatan (sabun cair, handuk bersih/disposable)

  • Lantai kamar mandi kuat, permukaan rata, kedap air, tidak licin dan mudah dibersihkan. Kemiringan yang cukup (2-3%) ke arah saluran pembuangan air limbah

  • Ventilasi yang dapat menjamin peredaran udara di dalam kamar atau ruang dengan baik

  • Bila ventilasi alam tidak memenuhi persyaratan harus dilengkapi dengan ventilasi mekanis (AC, kipas angin, exhaust fan)

  • Intensitas cahaya yang memenuhi syarat untuk melakukan kegiatan yang memerlukan sedikit ketelitian adalah 200-300 lux.

  • Kenyamanan suhu berkisar antara 18-20 derajat celcius dan kelembaban berkisar antara 40-70 %

  • Tingkat kebisingan tidak melebihi 85 db.

  • Perlunya anjuran atau peringatan yang harus dipatuhi pengelola, pengunjung maupun karyawan untuk berperilaku bersih dan sehat.

  • Ruangan diatur sedemikian rupa sehingga bersih, nyaman dan membuat rileks. Misalnya dengan pengaturan warna ruang, warna perabotan, latar belakang musik yang sesuai, tanaman hidup segar, benda seni Indonesia dan sebagainya.


2.6. Tinjauan Umum Lounge

Dalam bahasa Indonesia, Lounge berarti tempat santai. Secara istilah, Lounge merupakan suatu tempat santai untuk menjamu tamu yang hendak melakukan kegiatan untuk menghabiskan waktu. Seperti membaca, makan, minum, mengobrol, dan kegiatan lainnya. (Jurnal Imaji. Vol.1 Januari 2012: 61).




Pada lounge analisa anthropometri adalah untuk menentukan keergonomisan furniture termasuk didalamnya sofa, coffee table, meja makan dan kursimakan serta jarak sirkulasinya.Jarak minimal area pelayanan pada meja adalah 91,4 cm. untuk meja makan memiliki tinggi meja sesuai dengan ergonomisnya adalah 75 cm. jarak antara kursi dengan kursi lainnya minimal 90 cm. Untuk sofa, memiliki jarak bersih minimal 40cm dari coffee table, jarak minimal area pelayanan adalah 91,4 cm. untuk coffee table memiliki tinggi 40 cm – 45 cm sesuai tinggi sofanya yaitu 40cm - 45 cm.

Gambar 2.13. Anthopometri pada lounge

(Sumber: Dimensi Manusia & Ruang Interior. Panero, J. & Zelnik, M.)




Dostları ilə paylaş:
1   2   3   4


Verilənlər bazası müəlliflik hüququ ilə müdafiə olunur ©genderi.org 2019
rəhbərliyinə müraciət

    Ana səhifə