Risalah lokakarya



Yüklə 154,44 Kb.
səhifə2/4
tarix20.09.2017
ölçüsü154,44 Kb.
1   2   3   4

Pak Danaryanto :

  • Terima kasih pak saya menambahkan dari rekan saya pak Wahyudin, CAT itu kalau bahasa Inggrisnya memang ”Ground Water Basin”, betul ya pak, ini pak Peter yang juga menggeluti masalah air tanah, jadi tadi sudah disebutkan kalau di dalam peraturan perundang-undangan itu memang sudah ada pengertian atau definisinya, baik itu di UU 7 maupun UU, eh maupun PP.43 tentang Air Tanah, menurut UU.7 pada pasal 13 ayat 1 itu bila sungai dan cekungan air tanah itu ditetapkan dengan keputusan Presiden nah sekarang cekungan air tanah sudah diinventarisasi oleh Departemen ESDM melalui Badan Geologi sesungguhnya sudah sangat lama pak, dan itu dalam proses penetapan dengan Keputusan Presiden, dan itu memang sudah dimasukkan rancangannya itu sejak bulan agustus tahun 2008 yang lalu dan sudah sempet dibahas 2 atau 3 kali, di Sekkab pak, karena itu Keputusan Presiden, didalam eh ya kita harapkan tidak terlalu lama akan di segera di ada keputusan Presiden tentang penetapan Cekungan Air Tanah ini, karena ini sangat penting sama dengan wilayah sungai juga itu menjadi dasar dalam pengelolaan air tanah, kalau kita baca di pasal 12 ayat 1 itu dasar pengelolaan air apa, pengelolaan air tanah itu didasarkan pada tip, pengelolaan air permukaan didasarkan pada wilayah sungai, tapi di pasal 2 disebutkan bahwa pengelolaan air tanah didasarkan pada Cekungan Air Tanah, jadi memang ini given pak, jadi bukan penggabungan tapi memang secara fisik pembentukan air tanah itu mulai dari daerah resapan atau imbuhan kalau istilahnya di dalam air tanah itu atau Richard terus kemudian dia masuk kedalam tanah, kemudian mulai membentuk air tanah, mengalir, kemudian meninggalkan wadah tersebut, atau kalau di dalam istilah kita di dalam UU itu disebut CAT, nah itu dalam satu proses, maka di dalam CAT itu temanya CAT itu apa ada pengertiannya itu, pengertiannya sudah diberikan, tapi ada kriteria yaitu 3 itu pak, yang pertama jelas mempunyai batas, tadi sudah disebutkan ada batas-batas hidrogeologis, sekarang batas hidrogeologis itu agak berbeda dengan batas service nya pak, kalau batas service nanti catchment itu pak, yang terjadi bisa, misalnya arah, arahnya itu yang jatuh di permukaan itu ke selatan, tapi air tanah itu ngalir ke utara karena apa, ada struktur lapisan yang miringnya ke utara, jadi tidak langsung mengalir ke selatan, tapi langsung balik ke utara, karena ada struktur, maka itu disebut, batas hidrogeologis, saya tidak membawa contoh gambarnya ya, lha itu seperti itu pak. Terus kemudian yang kedua itu di kriteria itu ada daerah imbuhan dan lepasan, daerah imbuhan itu adalah tempat mulai terbentuknya atau mulai dari resapan, mulai terbentuknya air tanah yang tadi, yang masuk dari air hujan, mulai membentuk itu daerah imbuhan, daerah lepasan itu mulai meninggalkan, nanti sebetulnya kalau kita sinkronkan dengan UU Tata Ruang itu juga ini sinkron pak, karena daerah imbuhan itu adalah mempunyai fungsi lindung, kemudian daerah lepasan mempunyai fungsi budidaya pak, nah itu sebetulnya untuk cekungan air tanah itu sudah menyangkut, mencakup dua fungsi ini, terus yang ketiga itu tadi udah disebutkan juga pak, ada sistim aquifer, jadi memang tidak seperti danau atau blumbang gitu ya, tapi didalamnya itu memang ada batuannya jadi artinya itu ada di dalam tubuh batuan ini, batuan ini, ada yang mungkin batuannya macem-macem pak, jadi mangkanya nanti sifat-sifat dari air tanah itu akan mencerminkan juga sifat-sifat batuan yang tempat dia berada, misalnya batu gamping sifatnya juga akan tercermin, kalau batu lempung sifatnya juga akan mencerminkan komposisi pihak batu lempung itu tadi, itu sebetulnya cekungan air tanah pak, memang orang sulit memahami karena itu dibawah permukaan tanah, tapi memang itu, lha ini pak Peter sudah bawa ini pak ya, ini cekungan air tanah itu, tapi kemarin sudah kita update karena pada waktu pembahasan di Sekkab itu, dari Sekkab itu minta dilengkapi karena kriterianya ada 3, kalau ini masih ada batas, tetapi di dalam cekungan air tanah itu juga ada daerah imbuhan dan lepasan, maka itu harus ditambahi batas daerah imbuhan dan lepasan.

  • Terus yang ketiga ada cross section sekarang yang .... sistim aquifer dari cekungan air tanah tersebut, ah sekarang sudah dilengkapi semua dan setelah dilengkapi memang tadi sudah disebutkan oleh pak Wahyudin, sudah di launching pak, artinya apa cekungan ini sudah penentuannya pak, kalau penetapannya memang harus dengan Keputusan Presiden, tapi penentuannya sudah diketahui atau sudah bisa ditandatangani oleh pimpinan Departemen itu menteri ESDM dan itu nanti kita harapkan juga akan memperlancar penetapan cekungan itu dengan Keputusan Presiden yang saat ini sebetulnya rancangan ini sudah ada di Sekkab, kita harapkan seperti itu, nah mungkin ini tambahan saya seperti itu pak, jadi inilah yang namanya cekungan tadi pak, memang agak beda dengan catchment area atau waterset itu beda pak, karena itu di permukaan, tapi kalau di bawah ini ada banyak apa pengaruh geologi pak, aliran di permukaan bisa ke selatan, aliran air tanahnya ke utara pak, karena miringnya lapisan batuan ke utara, nah itu hal-hal inilah yang mungkin nanti perlu dipahami dan data dan informasinya itu sangat penting pak, karena untuk mengelola ini karena tadi sudah disebutkan pak, basisnya CAT karena itu nanti terukur, mulai dari daerah imbuhan itu masuk berapa, ngalir berapa, keluar berapa, sehingga nanti kalau mau mendayagunakanpun itu juga harus dasarnya adalah basis cekungan ini tadi, karena terukur pak, masuk berapa, ngalir berapa, keluar berapa, sehingga itu nanti tidak merusak lingkungan kalau didayagunakan, jadi itu mungkin yang bisa saya sampaikan, terima kasih pak.




    1. Moderator :

  • Terima kasih, oh masih ada tambahan, silahkan pak.




    1. Pak Hidaya P :

      • Mungkin harus ada catatan di Atlas kita itu, dan sekarang di UNESCO dia sedang menggodog waktu rapat IHB yang tahun 2009 lalu ya, sebetulnya saya sudah menyampaikan bahwa di kita ada, cuman saya ga tau siapa yang terlibat dari Indonesia, mungkin pak Peter tau bisa menambahkan tapi saya katakan kita harus juga ikut dalam hal itu, mungkin supaya ada catatan supaya nanti kita ga kecolongan lagi di dalam atlas kita, mungkin demikian pak.




    1. Moderator :

  • Terima kasih nanti ada tambahan dari pak peter kayaknya, sudah




    1. Pak peter :

      • Kalau kita kembali ke masalah awal tadi pak, jadi orang yang sulit membayar, sulit data, pertanyaannya, apakah kalau dengan mengintroduksi teknologi yang lebih baru dari pada yang lama ya apakah kita bisa menjust keluar dari permasalahan ini, karena selama ini khan boleh dibilang setiap penakar hujan harus 120 cm, harus sekian centi diatas tanah dsb, tetapi sesuai dengan penakar kalau kita hendak kutip otomatis, yang lebih mahal, yang lebih sering dicuri dsb nya, apakah hal-hal demikian bisa kita atasi gitu.

      • Kedua, apakah penggunaan remote sensing, dimana data satelit itu khan sudah bisa mulai dipakai, tidak mutlak tapi bisa mulai dipakai untuk penentuan hujan dsb, sekarang ada banyak satelit ya, lebih dari 4 saya tahu yang khusus mengamati mengenai uap air dan pergerakan uap air di angkasa, jadi ini suatu masalah kita harus atasi, tapi apakah kita pakai pak Yusuf Kalla, apa lebih cepat lebih baik dan seterusnya, atau kita mau katakan lanjutkan gitu, karena kita bisa memasukkan teknologi disitu dengan demikian kita bisa mengurangi jumlah posnya, akurasinya kita tingkatkan.

      • Hal lain yang berkaitan dengan ini yang juga ingin saya kemukakan, adalah mengenai gaji ataupun honor, ataupun apa namanya, mungkinkah fungsional penakar hujan atau fungsional iklim ataupun apa ini bisa diciptakan, itu lama prosesnya pak mungkin 10 tahun, tetapi harus dimulai, lebih dari 10 tahun ya, untuk peneliti kami sudah kerjakan itu lama sekali pak, lama, mulai dari menggolkan sampai dia bisa dapat honor itu lama sekali, tapi mulailah gitu.

      • Kemudian mengenai kalibrasi ya, saya kira ini memang sesuatu yang sangat diperlukan, karena sampai-sampai pernah ya, mudah-mudahan sekarang sudah tidak lagi, bahwa data kita di luar negeri khan tidak diakui gitu karena tidak ada kalibrasi, itu data resmi dari BMG dulu ya.

      • Kemudian nama perubahan menjadi BMKG, mudah-mudahan ”K” itu Klimatologi ya bukan Kalibrasi gitu, karena disamping itu khan ada secara nasional ada pak BSN, Badan Standarisasi Nasional, jadi jangan kita mengoverlap dengan yang apa sudah ada, demikian pak terima kasih.




    1. Pak Dodo :

      • Batasan arti kalibrasi, khusus peralatan yang dikelola BMG, tapi segala sesuatu pada kalibrasi itu dibawah BSN, begini saja.



    1. Pak Sasmito :

      • Ya terima kasih saya juga mau urun rembug, karena dulu saya bekas kalibrasi pak, saya dulu kasubidnya kalibrasi 15 tahun sama pak Heri pimpinan saya, jadi saya ingin menyampaikan bahwa alat itu perlu dikalibrasi ada 2 jenis, ada field- calibration dan lab-calibration, kalau orang asing tadi bapak bilang dari pak Leonard tadi ujug-ujug dipasang itu memang prosedurnya tidak seperti itu, begitu speknya menyatakan oh alat ini bisa diukur dari min 10 sampai 100, itu harus diuji lab, bener ga ini dengan modifikasi, oh bener dari min 10 sampai 100 bisa menunjukkan angka seperti itu, untuk mengetahui tentang pengukuran, tetapi nanti beberapa waktu khusus nanti lebih difokuskan pada keadaan yang sebenarnya di alam ini mungkin di suatu wilayah kita ya kira-kira antara suhu biasanya 27 sampai 33 itu lebih difokuskan seperti itu, tapi begitu suhu jadi diuji kalibrasi lab dimasukkan di lapangan juga tetep di kalibrasi pak, dalam beberapa hari kita kalibrasi ya, karena di lab itu relatif gangguan tidak ada, begitu di fieldkan gangguan itu ada angin, ada sebagainya, ha itu tetep dikalibrasi, tetep diamati, secara tiap jam, setengah jam, diamati, ha itu dengan kondisi lapangan yang sebenarnya, itu apakah berubah dengan di lab kalibrasi itu, jadi ada 2 jenis kalibrasi, ada lab kalibrasi sama field kalibrasi.

      • (suara pak Leo), iya kalau ketentuan kita masih tetep begitu pak, disana sudah ada sertificate, karena dikhawatirkan di dalam perjalanan itu, siapa tau kena goncangan, kena apa turbulence sehingga agak terganggu dsb itu, dan ada penyetelan, mungkin penyetelan itu ada sesuatu hal yang mungkin kurang pas, sehingga akan berubah, itu tetep jadi aturan di kita BMG itu tetep harus dilakukan kalibrasi, dan disamping alatnya mudah-mudahan dalam forum ini juga manusianya pak, observer mudah-mudahan kita nanti kita bisa dikasih satisfied ya, sertifikat tidak hanya guru thok, terus ga mau belajar tapi belum tentu di training seminggu atau 2 minggu dikasih sertifikat, bahwa pengakuan bahwa dia bener-bener layak menjadi seorang pengamat yang baik, itu perlu kita ciptakan sehingga data kita itu nanti tidak diragukan lagi seperti apa yang dilakukan pak peter, terus terang aja pak, sekarang itu khan lagi eupaforia masalah climate change pak di Indonesia itu, semua nanti akan muncul teknologi atau ahli-ahli climate change pak nanti, tapi begitu dilihat datanya pak, apakah sudah meta datanya bener-bener ini, saya terus terang ragu, jadi orang mengatakan sekarang ada pemanasan suhu 2° itu dulu dari dulu sudah di kalibrasi apa ga gitu ya, saya itu dalam hati, tapi ini sesama temen khan ga boleh saling mendahului kata-kata yang ga enak khan ga boleh ya dibatin aja, tapi secara ilmiah hati kita akan bertanya, apa betul itu datanya, ini yang harus meta data didalam meterorologi, meta data sejak pemasangan itu ada histori data, histori alatnya, oh ini dipasang disini dengan lingkungan yang kayak gini, kondisinya kayak gini, penggantiannya tanggal ini, dulu koreksi dengan yang lama kayak gini, kita itu harus punya meta data yang bagus, lha wilayah kita di Indonesia itu nampaknya hal-hal yang begitu itu diabaikan begitu saja pak, sehingga orang mengatakan climate change – climate change itu apa yo bener gitu, saya itu terus, terus terang dalam hati kecil, ga tau pak nanti ini sebentar lagi khan banyak ahli climate change pak, dulu waktu ada gempa di tsunami banyak ahli geofisika, ahli tsunami banyak, sebentar lagi ini ahli climate change di Indonesia banyak sekali, tapi datanya ga tau pak, mudah-mudahan ini kita bisa lebih baik lagi, untuk itu kami sampaikan kepada pihak yang sebelah kanan ini mungkin ada diskusi lagi yang lebih hidup, oh oke kalau kurang puas, silahkan pak.




    1. Pak Yoesron :

      • Sedikit aja ya mengenai, tadi pertanyaan pak Peter belum terjawab mengenai remote sensing, jadi remote sensing ini masih memerlukan ground water, ground observation untuk validasi, jadi pengamatan di bumi itu masih diperlukan jadi untuk memvalidasi data dari satelit itu, jadi mereka juga mengembangkan bagaimana mental and skill terutama untuk hujan, kemarin kemarin eh hari ini juga bikin workshop mengenai rainfall down scaling, kerjasama dengan LAPAN dengan BPPT , ya memang teknologi itu di BPPT juga ga tau tahun 2000 berapa gitu ya khan mau mendirikan 6 radar mulai dari yang di bukit tinggi, serpong sampai di Biak ya itu, nah itu memang sedang dikembangkan teknologinya gimana memakai remote sensing ini, tapi sepengetahuan saya dan saya sudah tanyakan kepada mereka ke Jaksa disana di Jepang Ground water observation itu masih harus diteruskan, baik terima kasih.



    1. Pak Sasmito :

      • Iya betul pak, terima kasih masukan dari pak Yoesron, memang selama ini kita banyak jenis satelit pak, selama ini kita masih belum berani melakukan apa melakukan ground check dengan data-data yang dari permukaan, karena selama ini kita hanya menggunakan gitu saja perlu di kalibrasi istilahnya pak, ya kebetulan saya sekarang ini sedang berlangsung dengan masalah satelit dengan Simob, dengan model Simob, Pak Dodo juga melakukan kalibrasi dengan model DRMN, ini masih kita dalam proses pak, memang untuk mengatasi data yang kosong, mau-tidak-mau harus dengan satelit pak, masa depan, (kalau kalibrasi itu untuk alat, suara pak Yoesron), ya validasilah seperti itulah kira-kira seperti itu maksudnya sama, tapi hanya ucapannya yang beda, oke, oke, betul pak, ini menarik sekali untuk masa depan kita, itu harus mau-ga-mau kita harus belajar ke remote sensing, tidak lagi harus manual di staf bagian dalem satu-satunya, terima kasih.



    1. Pak Irfan :

      • Ass.Wr.Wb menjawab pendorongan dari pak Leo, di Balai Hidrologi dan Tata Air itu ada beberapa alat untuk kalibrasi yang 3 itu sudah ada sertifikatkannya jadi kalau kita mengeluarkan itu sudah ada sertifikatnya nasional, itu ada Karometer, Rainfall, Raingate, kemudian satu lagi anemometer, angin yang pakai win tunnel itu, yang lain-lain ada juga Barometer, termometer, Higrometer, kemudian akinograph itu masih dalam rancangan terus untuk menuju ke akreditasikan, mengapa itu tidak semuanya sebetulnya kalau atas saran-saran narasumber yang, narasumbernya juga dari BMKG juga, jadi dari BMKG dan dari lain-lain temen-temen yang lain-lain untuk mensuport itu dan bisa, hanya saja Puslitbang Air dan Badan Litbang ga punya wewenang untuk supaya orang melakukan itu, khan harusnya, apa sebaiknya wewenang itu ada di pengelola hidrologi, nanti akan dipresentasi kami mungkin, jadi kira-kira misalnya alat sudah sekian atau apa, nah itu harus dilakukan oleh manager hidrologi yang dorongannya dari Dirjen SDA sementara untuk menuju ke data yang baik sesuai dengan fungsi dsb itu urusan katakanlah Puslitbang sumber daya air, jadi ada wilayah-wilayahnya supaya tidak terjadi, apa ya seperti itu, nah kemudian kami senang apa yang dikatakan oleh pak peter, apabila eh apa, satu teknologi loncat, kalau orang sunda bilang, ada jalan komumuntas, jadi apalagi kalau shortcard itu bagus, hanya saja pak peter peneliti-peneliti kami suka bingung, suka bingungnya begini selalu berpedoman kepada aturan di BMO, bahwa misalnya kalau daerahnya berbukit itu 25 km2 harus ada pos, mereka ga berani mengeluarkan apapun, wah ini jatuhnya kurang banyak, posnya kurang banyak, dan lain sebagainya, nah jadi berdasarkan itulah kalau melakukan rasionalisasi misalnya Puslitbintal selalu kita minta ada pasang pos berdasarkan aturan-aturan itu pak, jadi seperti kata pak Yoesron kalau ground check itu mungkin masih perlu juga pak, karena apakah satelit kita bisa setajam 25 km2 atau kalau daerahnya flat khan bisa 1.500, tetapi kalau daerah-daerah di Indonesia itu kelihatannya antara 100 km sampai 25 km pak, kalau berdasarkan pengalaman-pengalaman kami, itu catatannya, yang lain-lainnya nanti kita sampaikan di presentasi kami, ya terima kasih.




    1. Pak Fachrudin :

      • Terima kasih, ini pak mengenai akses data untuk publik gitu ya, tadi yang disindir pak Hidayat itu saya kira mungkin gini ya kalau saya pandangannya gitu kita ini khan pegawai negeri semua ini, datanya khan dari APBN gitu ya, artinya kalau APBN itu khan dari rakyatlah, dari pajak, dari macem-macem kalau kita setor lagi ke rakyat khan saya kira logis-logis aja khan gitu, nah mungkin yang perlu di inikan ya, di garis bawahi mungkin level data yang tadi, mungkin apalah data hujan atau apalah gitu yang level tertentu ini free gitu lho, saya kira harus free gitu, nah ini ada anunya mungkin seandainya ini apa pihak operator itu mungkin keberangkatan segala macem gitu, mungkin ini bisa disiasati artinya gini, di dalam tiap tahun itu khan ada pengajuan anggaran segala macem gitu nah masalah satuan biaya itu yang mungkin selama ini mungkin ga ada satuan biaya untuk sunk-cost untuk ini gitu, saya kira ini bisa diajukan kalau di LIPI itu khan ada satuan biaya khusus gitu khan, di BPPT saya pernah lihat juga ada gitu, nah itu khan bisa kita ajukan, satuan biaya khusus misalkan untuk pengamatan stasiun, itu bisa kita lakukan itu, nah kalau apa tadi, akses ini kita bisa buka gitu dan itu free gitu, itu nanti duplikat data itu saya kira akan kita hindari gitu, sehingga kita lihatnya harus kearah lebih tinggi lagi nanti lebih effisien gitu, mungkin pada suatu lokasi, instansi ini masang, instansi ini masng dsb, itu khan saya kira itu ga effisien gitu, nah mungkin dengan forum ini saya kira kita punya power pak untuk itu gitu, artinya kita bisa buka akses data, tapi konsekuensinya kita harus didanai sekian-sekian gitu, ini harus kita beranikan gitu pak, terima kasih pak.



  • Ekspose III : Puslitbang SDA Dep.PU (Irfan)

(Tayangan – Lampiran)


  • Ekspose IV : BMKG ( Dodo Gunawan )

(Tayangan – Lampiran)

Diskusi II :


    1. Pak BPPT (Triyono) :

      • Baik diujung penggunaan data tersebut, BMKG belum terbaca permasalahan yang paling mendasar pada sisi pengumpulan data & pada bagian penggunaan data kategori data, publik, terbatas, ketahuan level penggunanya, di dalam instansi sulit mengakses data, pengguna eksternal, akses bebas, di Web mana yg gratis, mana yang bayar, pembuatan kebijakan fokus arah mekanisme penyediaan data, swasta atau perseorangan.

      • Wahyudin itu perlu password atau apa.




    1. Pak Dodo :

      • Kami dari BMG mengara ke web base, data sudah dicreate, tergantung kerapatan data, untuk publik, mungkin ada kesepakatan bersama, pakai password, untuk beberapa level, dengan kesepakatan, ini sekedar informasi, jaman kolonial data banyak, kita tidak mewariskan data seperti itu masih dalam bentuk manuskrip tapi sudah di scan, di BMKG sudah direcovery

      • Kalau permasalahn pos hujan dengan PU kita membuat pos pekerjaan dalam bentuk kartu pos, dengan kantor pos bayar, tapi di level balai itu dapat data dari pos kerja itu

      • Permasalahan honor, itu juga memang jadi masalah juga tentang data, sampai ada data yang double, ekses dari permasalahan dan kondisi pengamat (kualitas manusia suara pak Leo)



    1. Pak Leo :

      • Pengalaman kami dengan BMG dan PU cukup mesra, kami dikirim buku, ada 3 buku, tapi tidak mungkin dikirim ke pertanian dsb, informasi yang seperti ini perlu dirajut kembali, tapi kurang publikasi, terus terang dengan BMG, data kami telp langsung dibuka gudang untuk mengambil sendiri.




    1. Pak Peter :

      • Saya boleh bertanya climate change, yg besar pengaruhnya.... data tidak

      • Suhu air laut.... seberapa jauh hal ini anda sebarkan

      • Hujan besar anda... yg lain juga perlu kirim fax



    1. Pak Dodo :

      • Dirumah besok dia bawa data hujan .... dikirim ke posko banjir, terus dikirm ke PU

      • Yang sudah stabil seperti itu Jabodetabek, kita juga khan adat tentang pintu air, disatukan dengan informasi itu

      • Tentang climate change, naiknya muka air laut, pemanasan global, disorot seluruh masyarakat, mengancam negara kepulauan, tentang suhu, kalau BMKG hanya menyajikan, dari satelit memang bisa mendapatka suhu air laut, informasi sudah ada, dalam membuat perkiraan musim, baik Indonesia maupun sekitarnya, kita juga monitor, dalam perkiraan itu disampaikan mingguannya, didaerah-daerah yang dipasang di Noah, tapi dengan kerjasama seperti itu termasuk informasi upwealingnya itu, tentang climate change ini masih,




    1. Pak Peter :

      • Climate change ini bukan hanya perubahan permukaan laut, tetapi perubahan iklim, itu penting untuk ketahanan pangan




    1. Pak Dodo :

      • Untuk jakarta sangat panjang, sudah ada trend kenaikan dari suhu, memang trend kenaikan suhu sudah terlihat dari data-data kami.




    1. Pak Leo:

      • Perlu penelitian kok bergeser pola hujannya itu, itu yang selama ini bergeser, memendek gitu, saya kalau menampilkan grafik begitu saja.

      • Kalau bisa di publish, agar kita tahu.



    1. Pak Dodo :

      • Dicoba lihat musimnya kemaraunya semakin memanjang di berbagai wilayah,




    1. Pak Budi :






    1. Pak Wahyudin :

      • Yg kami tampilkan produk yang sudah dikerjakan sifatnya open, free, display, layout, kalau di web bisa langsung, softwarenya apa pak, atau dikembangkan sendiri, sampai sekarang belum bisa langsung link.




    1. Pak Yoesron :

      • Apa bisa kompatible, apa bisa langsung diambil data bapak, kalau data puslitbang itu belum bisa diakses.




    1. Pak Irfan :

      • Data yang ada di balai, inginnya data lewat puslitbang tidak lewat balai, datanya sendiri bisa diminta dan langsung dikirim, bisa hardcopy dan softcopy, semua data yang kita miliki, iklim juga




    1. Pak Sigid :

      • Untuk data yag kami kelola, opensource, unt menghemat anggaran, data bisa diambil, tapi begini, raw data bisa langsung daimbil tapi data itu milik negara, yg bisa ditampilkan data 10 harian tadi, sementara seperti itu, dalam kebijakan nasional ini seluruh data bisa ditampilkan .

      • Saya sepakat dengan pak peter, masyarakat, kurang memahami, seperti pak peter sampaikan tadi, tetap harus iya, kepentingan Litbang silahkan diambil,


1   2   3   4


Verilənlər bazası müəlliflik hüququ ilə müdafiə olunur ©genderi.org 2019
rəhbərliyinə müraciət

    Ana səhifə